SAMARINDA: Aktivitas arus balik Lebaran di Terminal Lempake, Jalan D.I. Panjaitan, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, mulai mengalami peningkatan.
Sejak H+1 hingga H+3 Idulfitri 1447 Hijriah, tercatat sebanyak 430 penumpang tiba di terminal tersebut dari wilayah Bontang dan Sangatta.
Penata Layanan Operasional Terminal Lempake, Marsel Reza, mengatakan arus balik sebenarnya mulai terlihat sejak Minggu. Namun pada awalnya pergerakan penumpang masih didominasi oleh keberangkatan dari Samarinda menuju daerah lain.
“Sejak tanggal 22 sudah mulai ada arus balik, tapi masih didominasi keberangkatan dari Samarinda ke Bontang dan Sangatta. Mulai hari ini baru ada peningkatan kedatangan penumpang dari Bontang ke Samarinda dan Sangatta ke Samarinda,” ujar Marsel saat ditemui di kantornya, Rabu, 25 Maret 2026.
Berdasarkan data pihak terminal, jumlah kedatangan penumpang selama periode H+1 hingga H+3 Lebaran mencapai 430 orang.
Pada H+1 atau 22 Maret tercatat 130 penumpang tiba, kemudian meningkat pada H+2 atau 23 Maret sebanyak 180 penumpang, dan pada H+3 atau 24 Maret tercatat 120 penumpang.
Marsell menjelaskan, sebagian besar bus yang tiba di Terminal Lempake dalam kondisi penuh. Dalam satu armada bus, rata-rata terdapat sekitar 29 penumpang.
“Biasanya satu bus bisa sampai 29 penumpang,” jelasnya.
Selama periode Lebaran, rata-rata terdapat lima hingga delapan bus yang melayani rute dari Bontang dan Sangatta menuju Samarinda setiap harinya. Sementara itu, untuk keberangkatan dari Samarinda menuju kedua daerah tersebut tercatat lebih banyak, yakni sekitar 10 hingga 12 bus per hari.
Pihak terminal memperkirakan puncak arus balik Lebaran akan terjadi pada akhir pekan mendatang. Hal ini seiring dengan dimulainya kembali aktivitas kerja dan sekolah pada Senin, 30 Maret 2026 mendatang.
“Puncaknya kemungkinan sekitar tanggal 28 atau 29 Maret, karena aktivitas kerja dan sekolah mulai kembali tanggal 30,” katanya.
Meski demikian, Marsel menyebut aktivitas arus mudik dan balik tahun ini cenderung mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh jadwal libur yang tidak serempak serta kebijakan work from anywhere (WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Ia pun mengimbau masyarakat yang akan kembali ke daerah tujuan untuk mempersiapkan perjalanan dengan baik, termasuk datang ke terminal sesuai jadwal keberangkatan.
“Kalau bisa datang tepat waktu karena sopir mengejar perjalanan pulang-pergi, jangan sampai kehabisan bus,” pungkasnya.
Selain data dari pihak terminal, sejumlah pemudik yang tiba di Terminal Lempake juga mengaku memilih kembali lebih awal untuk menghindari kepadatan arus balik.
Salah satunya Bayu (20), mahasiswa semester enam di Samarinda yang mudik ke Sangatta sekitar sepekan sebelum Lebaran.
Ia memilih kembali lebih awal agar perjalanan tidak terlalu padat sekaligus memiliki waktu beristirahat sebelum kembali menjalani aktivitas kuliah.
“Saya mudik sekitar satu minggu sebelum Lebaran. Baliknya hari ini supaya tidak terlalu padat dan bisa santai dulu sebelum masuk kuliah lagi,” katanya.
Bayu mengatakan perjalanan dari Sangatta menuju Samarinda ditempuh sekitar empat setengah jam menggunakan bus dengan tarif sekitar Rp70 ribu.
“Berangkat tadi sekitar jam 7 pagi. Perjalanan kurang lebih empat setengah jam. Saya naik bus Bone Indah,” katanya.
Ia menilai perjalanan menggunakan bus lebih nyaman dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor, terutama untuk perjalanan jarak jauh.
“Kalau naik motor sebenarnya bisa lebih cepat, tapi capek. Kalau naik bus lebih nyaman saja,” tambahnya.
Hal serupa juga disampaikan Rini (21), pemudik yang kembali ke Samarinda setelah menghabiskan waktu Lebaran bersama keluarga di Rantau Pulung, Kutai Timur.
Rini yang merupakan mahasiswa semester empat di Samarinda itu mengaku hampir setiap kali pulang kampung menggunakan transportasi bus karena dinilai lebih aman dan tidak terlalu melelahkan.
“Kalau saya memang sering naik bus, karena kalau naik motor capek sekali. Orang tua juga tidak mengizinkan karena jaraknya jauh,” ujarnya.
Ia berangkat dari Sangatta menuju Samarinda sekitar pukul 07.00 pagi dan menempuh perjalanan sekitar empat setengah jam.
Meski perjalanan cukup lama, Rini mengaku tetap merasa nyaman selama berada di dalam bus.
“Selama perjalanan biasanya tidur saja, jadi terasa cepat. Memang ada bus yang pakai AC, ada juga yang pakai kipas, tapi tetap nyaman,” katanya.
Keduanya mengaku memilih kembali lebih awal untuk menghindari kepadatan penumpang yang biasanya terjadi menjelang berakhirnya masa libur Lebaran.

