SAMARINDA: Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mendorong pengembangan program Sekolah Lansia berbasis komunitas sebagai upaya menjaga kesehatan fisik dan mental warga lanjut usia, sekaligus memperluas ruang interaksi sosial yang positif.
Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri saat menghadiri pembukaan Sekolah Lansia yang keempat, yang kali ini diinisiasi oleh Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Mangkupalas, Kota Samarinda.

Saefuddin menyebut Sekolah Lansia Santa Mathilda ini diikuti sekitar 27 peserta yang berasal dari lingkungan gereja setempat dan diselenggarakan secara swadaya oleh masyarakat.
Ia juga mengapresiasi peran Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) yang telah bersinergi dengan komunitas dalam menghadirkan program tersebut.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah kota dan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan Sekolah Lansia di berbagai wilayah.
“Ini adalah pembukaan Sekolah Lansia yang keempat dengan sekitar 27 peserta. Terima kasih kepada DPPKB yang telah bekerja sama dengan gereja. Harapannya program ini bisa terus berlanjut dan dikembangkan di kecamatan maupun yayasan lainnya,” ujarnya, Jumat, 10 April 2026.
Selain itu, Saefuddin menilai Sekolah Lansia bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wadah penting bagi lansia untuk tetap aktif, saling berinteraksi, serta menjaga kondisi psikologis agar tetap stabil.
Karena menurutnya, lansia yang minim interaksi sosial berpotensi mengalami tekanan pikiran yang berdampak pada kesehatan.
“Kalau lansia tidak punya teman atau tempat berbagi, pikirannya bisa ke mana-mana, bahkan bisa memicu penyakit. Tapi kalau ada teman untuk bercanda dan berbagi cerita, suasananya jadi berbeda,” jelasnya.
Ia menambahkan, suasana kebersamaan yang penuh canda dan kegembiraan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesehatan.
“Rasa senang, kebersamaan, dan guyonan itu menghadirkan semacam imun kebahagiaan. Yang penting bukan soal umur, tapi bagaimana kita tetap merasa bahagia,” lanjutnya.
Program Sekolah Lansia ini dijadwalkan berlangsung rutin setiap pekan mulai 10 April hingga 25 Juni.
Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga penguatan mental, spiritual, serta keterampilan hidup sehari-hari bagi para peserta.
Tak lupa, Saefuddin mengapresiasi keterlibatan tenaga pengajar, termasuk dari kalangan perguruan tinggi, yang berkontribusi secara sukarela dalam mendukung kegiatan tersebut.
Ia bahkan menyatakan keinginannya untuk turut terlibat dalam proses pembelajaran.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa lansia memiliki peran penting dalam kehidupan sosial sebagai sumber nilai dan pengalaman bagi generasi muda.
“Pengalaman hidup para lansia sangat berharga, mulai dari kesabaran, tanggung jawab, hingga kebijaksanaan. Itu menjadi warisan penting yang harus terus disampaikan,” ungkapnya.
Ia berharap melalui program ini, para lansia dapat tetap mandiri, aktif, dan produktif meski dengan aktivitas sederhana, seperti berjalan, berbincang, maupun berbagi cerita.
Di akhir, Saefuddin turut mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap keberadaan lansia, serta mendorong para peserta untuk tetap menjaga kesehatan dan berpikir positif.
“Kita harus menghormati, menghargai, dan membahagiakan lansia. Semoga kita semua diberikan kesehatan, umur panjang, tidak merepotkan keluarga, dan tetap bisa menjalani hidup dengan bahagia,” tutupnya.

