SAMARINDA: Situasi unjuk rasa 21 April (214) di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) berubah memanas menjelang malam, Selasa, 21 April 2026.
Setelah sempat berlangsung relatif kondusif, ketegangan meningkat sekitar pukul 18.00 WITA saat massa tetap bertahan dan memadati kawasan aksi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, konsentrasi massa masih terlihat padat di sekitar Jalan Gadjah Mada hingga halaman kantor gubernur.
Meski sebagian peserta mulai bergeser, ribuan lainnya tetap bertahan di titik utama.
Puncak ketegangan terjadi ketika sejumlah massa mulai melemparkan botol air mineral ke dalam area kantor gubernur.
Aksi tersebut berlangsung meski sebelumnya telah diingatkan oleh jenderal lapangan dari atas mobil komando.
Situasi kian memanas setelah sebagian massa juga melempari aparat dengan sampah dalam kantong plastik.
Bahkan, lemparan benda keras seperti pecahan keramik dan batu turut diarahkan ke dalam halaman kantor gubernur.
Di sisi lain, aksi pembakaran sempat terjadi di ruas Jalan Gadjah Mada, menambah eskalasi ketegangan di lokasi.
Aparat gabungan yang telah bersiaga langsung meningkatkan kewaspadaan.
Kendaraan taktis water cannon mulai disiapkan, sementara barisan petugas membentuk formasi lengkap dengan tameng.
Melalui pengeras suara, Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar memberikan peringatan tegas kepada massa untuk segera membubarkan diri, dengan batas waktu hingga pukul 19.00 WITA.
“Segera membubarkan diri, diberikan waktu sampai pukul 19.00,” tegasnya.
Namun, imbauan tersebut tidak diindahkan.
Massa tetap bertahan, bahkan situasi sempat diwarnai gesekan antar peserta aksi yang diduga dipicu oleh aksi pelemparan yang tidak terkendali.
Ketegangan mencapai puncaknya saat aparat mulai bergerak maju.
Dari barisan depan, terdengar aba-aba tegas dari Kapolresta.
“Persiapan… maju! Satu, dua, tiga, maju!” teriaknya, seraya mengingatkan personel untuk tetap mengutamakan keselamatan.
“Jaga keselamatan!” lanjutnya.
Tak lama kemudian, water cannon mulai disemprotkan ke arah massa setelah peringatan berulang kali diberikan.
Teriakan “mundur, mundur, mundur” dari aparat terdengar bersahutan, diiringi kepulan air yang mengaburkan pandangan di sekitar lokasi.
Hingga sekitar pukul 18.30 WITA, situasi masih memanas.
Massa belum sepenuhnya membubarkan diri, sementara aparat terus melakukan upaya pendorongan secara bertahap.

