SAMARINDA: Sebagai langkah strategis, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus memenuhi lonjakan kebutuhan telur dan daging ayam di daerah.
Kalimantan Timur (Kaltim), mendapat proyek besar pengembangan hilirisasi industri ayam terintegrasi dari pemerintah pusat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim Fadly Sufiani menyebut, Kaltim memperoleh 14 unit pengembangan industri ayam petelur. Terintegrasi dengan nilai investasi, mencapai sekitar Rp1 triliun, melalui dukungan APBN dan program pusat.
“Alhamdulillah Kaltim mendapatkan kebijakan proyek pengembangan hilirisasi industri ayam terintegrasi. Ini fokusnya ayam petelur,” ujarnya, Rabu, 27 Mei 2026.
Program ini mencakup, berbagai fasilitas pendukung dari hulu hingga hilir. Sebanyak 14 unit yang akan dibangun meliputi; Unit parent stock (PS) beserta hatchery atau penetasan telur, Empat unit pembesaran pullet, Enam rumah potong unggas (RPU), Satu unit pabrik pakan, Satu unit pengolahan daging dan Satu unit pengolahan telur.
Menurut Fadly, saat ini tim terpadu dari pusat bersama pemerintah daerah. Tengah melakukan survei lokasi di sejumlah wilayah di Kaltim.
Penentuan lokasi dilakukan, dengan memperhatikan standar operasional peternakan, termasuk jarak dari permukiman dan peternakan lain.
“Tidak bisa dekat dengan rumah penduduk dan harus memperhatikan SOP peternakan,” katanya.
Diketahui kemampuan produksi telur lokal di Kaltim, saat ini baru mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan masyarakat. Sisanya masih dipasok dari luar daerah.
Karena itu, proyek hilirisasi ini dinilai sangat penting untuk meningkatkan kemandirian pangan daerah, terutama menghadapi tingginya kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saat ini, Kaltim memiliki sekitar 372 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap SPPG melayani sekitar 3.000 porsi makanan.
Jika mengacu pada standar konsumsi dari Badan Gizi Nasional, setiap anak sekolah mendapat konsumsi telur dua kali dalam seminggu. Dengan jumlah tersebut, kebutuhan telur di Kaltim diperkirakan mencapai Sekitar 1,1 juta butir telur dalam sekali distribusi dan Hampir 2,2 juta butir telur per minggu.
Sementara untuk kebutuhan ayam, konsumsi sekali makan mencapai sekitar 104 gram per porsi. Jika dikalikan jumlah penerima MBG, kebutuhan daging ayam diperkirakan mencapai sekitar 169 ton dalam sekali konsumsi.
“Kalau dua kali seminggu berarti dua kali lipat. Ini peluang investasi di Kaltim luar biasa,” jelas Fadly.
Meski kebutuhan ayam potong di Kaltim dinilai relatif aman karena telah didukung perusahaan besar, persoalan utama yang masih dihadapi adalah pakan ternak.
Fadly mengatakan pembangunan pabrik pakan menjadi prioritas utama dalam proyek hilirisasi tersebut. Menurutnya, keberadaan pabrik pakan akan menjadi kunci menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing peternak lokal.
“Yang masih menjadi masalah di Kaltim adalah pakan. Karena itu prioritas utama hilirisasi nanti adalah pembangunan pabrik pakan,” katanya.
Beberapa perusahaan besar yang saat ini telah beroperasi di sektor ayam potong di Kaltim antara lain Charoen Pokphand Indonesia dan Japfa Comfeed Indonesia.
Adapun proyek hilirisasi peternakan tersebut rencananya akan tersebar di beberapa daerah di Kaltim, termasuk Kabupaten Paser yang menjadi salah satu lokasi survei pemerintah pusat.

