SAMARINDA: Tanggal 17 Agustus 1945 menjadi titik tolak sejarah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Delapan puluh satu tahun kemudian, kemerdekaan bukan lagi sekadar membebaskan diri dari penjajahan fisik.
Ia telah bertransformasi menjadi pekerjaan rumah yang jauh lebih kompleks: memerdekakan pikiran, memerdekakan pendidikan, memerdekakan ekonomi, dan memerdekakan martabat manusia Indonesia.
Di usia ke-81 ini, kita hidup di tengah dua realitas. Di satu sisi, Indonesia semakin diperhitungkan di kancah global atau dunia.
Ibu Kota Nusantara dibangun di Kalimantan Timur, digitalisasi merambah pelosok desa, dan generasi muda kita tampil percaya diri di berbagai bidang.
Di sisi lain, ketimpangan mutu pendidikan di pedesaan dan perkotaan, rendahnya mutu pendidikan. Polarisasi sosial, dan krisis ekologis masih menjadi tantangan yang belum tuntas . Ini harus diselesaikan agar mampu persaing dengan negara lain.
Refleksi kemerdekaan, bukan untuk meratapi kekurangan. Tetapi untuk mengukur jarak antara cita-cita para pendiri bangsa dengan langkah nyata kita hari ini.
Apa yang Sudah Kita Lakukan
Selama 81 tahun, banyak capaian yang tidak bisa kita nafikan.
1. Kedaulatan politik terjaga.
Kita berhasil melewati berbagai ujian demokrasi, dari orde lama, orde baru, hingga reformasi. Pemilu langsung, kebebasan pers, dan ruang sipil yang semakin terbuka adalah bukti kematangan berdemokrasi.
2. Pembangunan infrastruktur masif.
Jalan tol, pelabuhan, bandara, dan kini IKN di Kalimantan Timur menjadi simbol pemerataan pembangunan yang dulu hanya terpusat di Jawa.
3. Akses pendidikan dan kesehatan meningkat.
Angka melek huruf naik, cakupan BPJS meluas, dan beasiswa seperti KIP dan LPDP membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk bermimpi lebih tinggi dalam menempuh pebdidikan.
4. Kebangkitan ekonomi kreatif dan digital
UMKM naik kelas, startup lahir dari anak bangsa, dan talenta digital Indonesia mulai bersaing di pasar global.
Ini adalah warisan kerja kolektif. Kemerdekaan telah memberi ruang bagi bangsa ini untuk tumbuh.
Apa yang masih Kurang
Namun jujur kita harus mengakui, ada pekerjaan besar yang masih tertunda.
1. Kemerataan mutu pendidikan.
Kita sudah membangun banyak sekolah, tetapi belum semua melahirkan lulusan yang berpikir kritis, berkarakter, dan siap kerja. Kesenjangan antara sekolah di kota dan di pedalaman, termasuk di Kalimantan Timur, masih lebar.
2. Kemandirian ekonomi sejati.
Kita masih menjadi eksportir bahan mentah dan importir produk jadi. Kedaulatan pangan, energi, dan industri hilir belum sepenuhnya kita kuasai.
3. Persatuan dalam keberagaman
Toleransi masih sering diuji oleh ujaran kebencian, politik identitas, dan hoaks. Semangat Bhinneka Tunggal Ika belum sepenuhnya menjadi perilaku sehari-hari.
4. Penjagaan lingkungan
Hutan, sungai, dan laut kita masih dieksploitasi tanpa memperhitungkan generasi mendatang. Kemerdekaan hari ini jangan sampai merampas hak anak cucu kita untuk hidup layak.
Apa yang Perlu Kita Perbaiki
Untuk menjawab tantangan ke depan, ada tiga hal mendasar yang harus kita benahi bersama.
1. Revolusi mental melalui pendidikan
Pendidikan harus kembali ke jati dirinya: mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru harus dimuliakan, kurikulum harus relevan dengan kebutuhan zaman, dan kampus harus menjadi pabrik gagasan, bukan sekadar pencetak ijazah. kami meyakini bahwa membangun guru berarti membangun peradaban.
2. Penguatan ekosistem inovasi dan hilirisasi.
Negara harus hadir memberi kepastian usaha, riset harus dibiayai, dan anak muda harus diberi ruang untuk menciptakan nilai tambah dari sumber daya kita sendiri.
3. Memperkuat narasi kebangsaan yang inklusif.
Kita butuh ruang dialog yang sehat. Media, tokoh agama, kampus, dan pemerintah harus menjadi penjernih dan mediator.
Harapan Kita Semua
Di usia ke-81, harapan saya sederhana: semoga kemerdekaan tidak berhenti pada upacara dan bendera.
Saya berharap, lahir generasi Indonesia yang merdeka secara ekonomi, tidak bergantung pada utang dan rente.
Generasi yang merdeka secara intelektual, berani bertanya dan tidak mudah ditipu informasi. Generasi yang merdeka secara spiritual, punya adab, empati, dan cinta tanah air.
Untuk Kalimantan Timur khususnya, mari kita jadikan momentum IKN sebagai pintu untuk menunjukkan bahwa pembangunan Indonesia bisa berkeadilan, berkelanjutan, dan berbasis kearifan lokal.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Kemerdekaan adalah anugerah. Menjaga dan mengisinya dengan karya adalah kewajiban.
Mari kita terus berjalan, dari kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah, menuju kemerdekaan yang diisi dengan karya, akhlak, dan peradaban.
Penulis: Dr. Abdul Rozak Fahrudin, M.Pd, Dosen IKIP PGRI Kalimantan Timur

