Samarinda – Jelang perpindahan ibu kota baru Indonesia yang direncanakan tahun 2024 ke Benua Etam, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim terus melakukan persiapan dari berbagai lini tak terkecuali di sektor peternakan dan kesehatan hewan.

Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim Fadli Sufiani mengaku saat ini populasi sapi potong di Kaltim masih di kisaran 119.954 ekor. Jumlah tersebut belum bisa memenuhi permintaan pasar di Kaltim.
“Saat ini untuk sapi potong, kemampuan lokal kita hanya 27 persen. Sehingga kita masih melakukan impor sapi potong dari luar pulau Kalimantan yakni dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo, Sulawesi Selatan, dan Pulau Jawa,” ungkap Fadli Sufiani kepada Narasi.co.
Fadli sapaan karibnya menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sapi di Kaltim, pihaknya pun berupaya melakukan kerja sama dengan distributor-distributor sapi beku yang ada di Kota Minyak, Balikpapan. Tentu dengan ketersediaan barang, maka harga akan menjadi stabil.
“Karena kalau tidak memenuhinya dengan daging beku, maka harga akan melambung tinggi. Jadi ini salah satu cara untuk menekan inflasi Kaltim,” kata Fadli.
Bukan hanya itu, DPKH Kaltim juga melakukan upaya lain guna meningkatkan populasi ternak dan kesejahteraan peternak yakni, melakukan pengembangan sapi sawit, integrasi sapi eks tambang dan perhutanan sosial melalui program penggemukan ternak dan pembibitannya.
Kemudian, adanya program mini ranch yakni melakukan budidaya sapi sekaligus dengan perkebunan pakan ternaknya.
“Mini ranch itu dibuat ada yang satu hektare sampai lima hektare. Kita biayai setiap tahun,” lanjut Fadli.
Termasuk memberikan pemahaman kepada para kelompok peternak dengan mengambil contoh peternak yang telah berhasil dalam melakukan budidaya sapi potong, salah satunya Koperasi Berkah Salamah Jaya (BSJ).
Sementara itu, Bendahara Koperasi BSJ Bambang Purnama mengungkapkan rasa bangganya karena BSJ telah berhasil melakukan sesuatu yang dinilai bermanfaat bahkan dijadikan percontohan bagi petani sapi di Kaltim.
“Ini salah satu bentuk kebanggaan. Kita juga akan tunjukkan yang nyata mengenai masalah pengembangan budidaya sapi potong di Kaltim. Bahkan langsung ke lokasinya,” tuturnya.
Bambang meyakini jika kegiatan ini bisa diikuti dengan baik maka akan membuahkan hasil yang maksimal pula. Karena tidak dipungkiri saat ini peternak sapi masih minim pengetahuan tentang kegiatan agribisnis. Sebab itu sosialisasi perlu ditingkatkan.

