

SAMARINDA: Wakil Ketua Komisi III DPRD Samarinda Arif Kurniawan menilai penanganan banjir di Kota Samarinda masih belum dilakukan secara menyeluruh.
Hal itu menyusul masih munculnya genangan tinggi di sejumlah titik jalan saat hujan meski pembangunan drainase terus dilakukan secara masif oleh pemerintah kota.
Menurut Arif, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda perlu melakukan kajian penanganan banjir secara komprehensif dan terintegrasi, tidak hanya sebatas membangun parit atau drainase di titik tertentu.
“Pemkot perlu mengkaji penanganan banjir secara komprehensif. Jangan sporadis bikin parit tapi sodetannya enggak dibuat atau enggak tembus,” kata Arif diwawancari, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia mencontohkan proyek drainase di kawasan Jalan Juanda yang sempat dibongkar kembali karena aliran air tidak berjalan optimal menuju anak sungai akibat persoalan elevasi saluran.
“Belum setahun sudah dibongkar lagi karena ternyata airnya tidak mengalir ke anak sungai. Artinya elevasinya tidak diperhitungkan,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan banjir harus dilakukan secara menyatu mulai dari pembangunan drainase, folder pengendali banjir, sodetan air hingga normalisasi sungai dan saluran secara berkala.
Arif mengakui beberapa wilayah di Samarinda kini mengalami penurunan durasi genangan dibanding sebelumnya. Namun, masih ada daerah yang tetap tergenang saat hujan deras bersamaan dengan air pasang sungai atau banjir rob.
“Kalau hujan deras bersamaan air pasang, otomatis genangan lebih tinggi. Jadi memang tidak semua persoalan banjir bisa digeneralisasi,” katanya.
Politisi PKS itu juga menyoroti tingginya sedimentasi di saluran drainase akibat aktivitas galian dan tanah uruk yang masuk ke parit sehingga menghambat aliran air.
Karena itu, menurutnya, pengerukan drainase dan normalisasi sungai harus dilakukan rutin, tidak hanya fokus pada pembangunan fisik semata.
“Jangan hanya dilebarkan atau didalamin, tapi pengerukan dan normalisasinya enggak jalan. Itu harus rutin dianggarkan,” ujarnya.
Selain infrastruktur, Arif juga menilai perilaku masyarakat menjadi salah satu penyebab tersumbatnya drainase. Ia menyinggung temuan tumpukan sampah botol plastik di kawasan Air Hitam yang menyumbat aliran air.
“Penanganan banjir ini bukan hanya tugas pemkot, tapi kita semua. Masyarakat juga harus disiplin buang sampah pada tempatnya,” katanya.
Ia menambahkan normalisasi Sungai Karang Mumus juga perlu terus dilakukan karena menjadi salah satu jalur utama aliran air di Kota Samarinda.

