
BONTANG: Di tengah geliat Kota Bontang sebagai salah satu kawasan industri strategis di Kalimantan Timur (Kaltim) kondisi ekonomi sebagian warga yang tinggal di sekitar PT Badak NGL justru masih memprihatinkan.
Ironi ini menjadi sorotan karena masyarakat di sekitar kawasan industri disebut masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Temuan itu mengemuka dari hasil serap aspirasi dalam kegiatan reses yang dilakukan Ketua Komisi A DPRD Bontang Heri Keswanto beberapa waktu lalu.
Sejumlah kondisi warga dinilai masih jauh dari kata sejahtera, bahkan sebagian di antaranya harus berjuang memenuhi kebutuhan pokok dengan kondisi serba terbatas.
Heri mengatakan kondisi tersebut sebagai sebuah ironi. Menurutnya, keberadaan industri besar di sekitar wilayah tersebut semestinya memberi dampak yang lebih signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Ini menjadi perhatian serius. Di satu sisi kita dikenal sebagai kota industri, tapi di sisi lain masih ada warga di ring 1 yang hidup dalam kondisi memprihatinkan,” ujarnya, Kamis 21 Mei 2026.
Dalam temuan di lapangan, masih ada warga yang disebut harus mengandalkan cara-cara tidak ideal untuk bertahan hidup, termasuk memanfaatkan sisa makanan.
Kondisi ini dinilai mencerminkan masih adanya masyarakat yang belum tersentuh secara optimal oleh program kesejahteraan.
“Fakta di lapangan menunjukkan masih ada yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Ini tidak bisa dibiarkan tanpa penanganan yang serius,” tambahnya.
Sebagai respons, penguatan program sosial di tingkat masyarakat dinilai perlu dilakukan, termasuk optimalisasi program “Tengok Tetangga” yang mendorong kepedulian antarwarga.
Selain itu, peran dunia usaha di sekitar kawasan industri juga dianggap penting dalam membantu penanganan persoalan sosial tersebut.
Menurutnya, upaya penanggulangan kemiskinan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut.
“Perusahaan juga bagian dari lingkungan sekitar. Sudah seharusnya ikut terlibat dalam melihat dan membantu kondisi masyarakat,” jelasnya.
Selain bantuan langsung, pendekatan jangka panjang juga dinilai penting, seperti pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, dan peningkatan akses kerja bagi masyarakat sekitar.
Heri berharap adanya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak industri agar kesenjangan sosial di kawasan ring 1 dapat berkurang secara signifikan.
“Harapan kita, jangan sampai masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri justru tidak merasakan dampak positifnya. Ini yang harus menjadi perhatian bersama agar ada perubahan yang lebih nyata ke depan,” pungkasnya. (Adv)

