SAMARINDA: Di tengah laju pembangunan Kota Samarinda yang kian pesat, Desa Budaya Pampang berdiri sebagai ruang hening yang merawat ingatan kolektif.
Terletak di Kelurahan Sungai Siring, Kecamatan Samarinda Utara, desa ini bukan sekadar tujuan wisata budaya, melainkan rumah hidup bagi identitas Dayak Kenyah yang dijaga lintas generasi.
Sejak ditetapkan sebagai desa budaya pada 1981, Pampang menjelma menjadi etalase tradisi Dayak Kenyah yang autentik.
Di sinilah seni tari, musik tradisional, ritual adat, dan nilai kebersamaan tetap berdenyut tidak sebagai tontonan semata, tetapi sebagai laku hidup masyarakatnya.
Ramai Ajau, Pesta Panen dan Pesta Persatuan
Setiap tahun, Desa Pampang mencapai puncak denyut budayanya melalui Ramai Ajau, pesta panen yang sarat makna.
Lebih dari sekadar ungkapan syukur atas hasil bumi, Ramai Ajau menjadi momentum pulang bersama menghadirkan warga desa, diaspora Dayak Kenyah, hingga ribuan pengunjung dari berbagai daerah dan mancanegara.
Lamin Adat Pamung Tawai, rumah panjang yang menjadi ikon desa, berubah menjadi pusat perayaan.
Denting sape, irama gendang, dan gerak tarian ritual berpadu menciptakan suasana yang sakral sekaligus han Anak-anak, orang tua, dan tamu duduk tanpa sekat, larut dalam kebersamaan.
Kepala Adat Desa Pampang, Asrom Palan, menyebut Ramai Ajau sebagai simbol persatuan masyarakat Dayak Kenyah.
“Ini bukan hanya perayaan panen. Ini adalah ruang kebersamaan. Siapa pun yang datang, kami anggap bagian dari keluarga,” ujarnya.
Dalam filosofi Dayak Kenyah, Ramai Ajau bermakna “membangun kembali keramaian kampung setelah panen” sebuah ajaran tentang gotong royong, silaturahmi, dan menjaga ikatan sosial.
Tarian Dayak Kenyah yang Tetap Setia pada Pakem
Salah satu kekuatan utama Desa Pampang terletak pada keaslian seni tarinya.
Dikutip dari beberapa laman, Chary Wijayanti, pengamat budaya Dayak yang telah mengikuti perkembangan Pampang sejak akhir 1980-an, menilai bahwa tarian Dayak Kenyah di desa ini masih sangat patuh pada pakem tradisional.
“Gerak, irama, dan filosofinya tetap dijaga. Mereka tidak keluar dari esensi aslinya,” kata Chary.
Meski ada tarian kreasi yang ditampilkan untuk menyesuaikan selera penonton, mayoritas pertunjukan tetap mengusung tarian tradisional murni. Inilah yang menjadikan Pampang sebagai “laboratorium hidup” seni Dayak Kenyah tempat budaya tidak dibekukan, tetapi dijalani.
Lamin Adat dan Lompatan Sosial Masyarakat
Lamin Adat Pamung Tawai bukan hanya bangunan simbolik. Sejak dibangun pada 1981, rumah adat ini terus diperbaiki dan diperluas, seiring dengan perubahan sosial masyarakat Pampang. Namun, menurut Chary, perubahan terbesar justru terjadi pada kualitas hidup warganya.
Secara ekonomi, masyarakat Pampang mengalami peningkatan signifikan.
Sumber pendapatan tidak lagi bertumpu pada sektor budaya semata, tetapi juga dari pertanian, perkebunan, hingga sektor industri di sekitar Samarinda.
Di bidang pendidikan, generasi muda Dayak Kenyah Pampang mencatat kemajuan mencolok. Banyak anak-anak desa yang menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga jenjang pascasarjana. Akses pendidikan dan kesehatan yang lebih dekat dengan kota menjadi salah satu alasan utama migrasi leluhur mereka dari pedalaman Apokayan puluhan tahun lalu.
Modern, Tapi Tak Tercerabut
Meski modernitas hadir dalam keseharian, nilai adat tidak luntur. Menurut Chary, masyarakat Pampang menjalani keseimbangan yang jarang ditemukan setengah modern, setengah tradisional.
Generasi tua tetap menjadi penjaga nilai, sementara generasi muda tumbuh dengan pendidikan modern tanpa kehilangan identitas.
Etika adat, cara menyambut tamu, hingga tata kehidupan sosial tetap dipertahankan seperti puluhan tahun lalu.
Warisan Tak Benda yang Terus Hidup
Bagi Chary Wijayanti, esensi Pampang terangkum dalam satu gambaran: Lamin adat dan para penarinya. Di sanalah Dayak Kenyah hadir secara utuh bukan sebagai artefak masa lalu, tetapi sebagai budaya yang hidup dan berkembang.
Desa Budaya Pampang menjadi bukti bahwa tradisi tidak harus kalah oleh zaman.
Ia justru bisa tumbuh berdampingan dengan kemajuan, membentuk masyarakat yang berdaya, berpendidikan, dan berakar kuat pada identitasnya.
Di tengah arus globalisasi yang kerap menyeragamkan, Pampang hadir sebagai pengingat: bahwa kemajuan sejati tidak lahir dari melupakan asal-usul, melainkan dari merawatnya dengan penuh kesadaran.
Desa Adat Pampang buka setiap hari dari pukul 08.30 hingga 17.00 WITA, namun pertunjukan tari tradisional Dayak khas Pampang hanya diadakan pada hari Minggu pukul 14.00 hingga 17.00 WITA, jadi sebaiknya kunjungi hari Minggu untuk melihat atraksi budayanya, sementara Senin-Sabtu bisa untuk menikmati suasana dan arsitektur desa.
Untuk harga tiket masuk, dikenakan biaya Rp40.000 per orang.

