BONTANG: Di kawasan Kampung Atas Laut Selambai, Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara, berdiri sebuah masjid yang tampak berbeda dari kebanyakan rumah ibadah lainnya.

Masjid Terapung Darul Irsyad Al Muhajirin seolah mengapung di atas laut, menghadirkan siluet bangunan yang menyerupai bahtera besar yang tengah berlabuh di pesisir Bontang.
Dari kejauhan, kubah dan menara berwarna emas tampak mencolok di antara hamparan biru laut.
Pemandangan itu semakin khas karena masjid ini berada di tengah kawasan perkampungan nelayan.
Aktivitas perahu yang hilir mudik, riak air laut, serta semilir angin pesisir menjadi latar alami bagi setiap jemaah yang datang untuk beribadah.
Masjid ini bukan sekadar tempat menunaikan salat.
Bagi banyak orang, keberadaannya juga menjadi ruang untuk menikmati ketenangan di tengah kehidupan pesisir yang dinamis.
Dari anjungan masjid, pengunjung dapat memandang laut lepas sambil menyaksikan aktivitas para nelayan yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat Selambai.
Sejarah Pembangunan
Gagasan pembangunan masjid terapung ini mulai direncanakan pada 2018 sebagai bagian dari pengembangan kawasan pesisir sekaligus destinasi wisata religi di Kota Bontang.
Pembangunan kemudian dimulai pada 2019 dan dilakukan secara bertahap menggunakan anggaran pemerintah daerah.
Tahap pertama pembangunan pada 2019 menelan anggaran sekitar Rp33,2 miliar. Pengerjaan dilanjutkan pada tahap kedua dengan anggaran sekitar Rp28,2 miliar, kemudian disempurnakan kembali pada tahap lanjutan hingga total nilai pembangunan mencapai sekitar Rp60 miliar.
Setelah melalui proses pembangunan bertahap, masjid ini akhirnya diresmikan pada 11 Maret 2022 oleh Wali Kota Bontang saat itu, Basri Rase.
Nama “Darul Irsyad Al Muhajirin” sendiri memiliki makna sebagai tempat petunjuk bagi umat Islam, yang diharapkan mampu menjadi pusat pembinaan keagamaan bagi masyarakat sekitar.
Arsitektur Unik di Atas Laut
Masjid ini memiliki konsep arsitektur yang berbeda dari kebanyakan masjid lainnya di Indonesia. Bangunannya didesain menyerupai kapal besar yang tengah bersandar di dermaga.
Kubah dan menara masjid berwarna emas tampak mencolok dari kejauhan, menjadi penanda visual yang kuat bagi kawasan pesisir Loktuan.
Di bagian ujung bangunan terdapat anjungan yang menjorok ke laut, dengan lantai kaca yang memungkinkan pengunjung melihat langsung air laut di bawahnya. Area ini menjadi salah satu spot favorit bagi jemaah maupun wisatawan yang datang.
Selain itu, terdapat gerbang utama yang berdiri sebelum memasuki area masjid, menambah kesan megah sekaligus memperkuat identitas arsitektur bangunan tersebut.
Secara keseluruhan, masjid ini mampu menampung sekitar 300 jemaah dan digunakan untuk berbagai kegiatan ibadah, mulai dari salat lima waktu, salat Jumat, hingga salat Idulfitri dan Iduladha.
Selain menjadi tempat ibadah, masjid terapung ini juga memiliki berbagai fasilitas penunjang.
Di antaranya toilet, tempat wudhu yang memadai, serta ruang serbaguna yang dapat digunakan untuk kegiatan keagamaan maupun sosial masyarakat.
Masjid ini juga kerap menjadi lokasi kegiatan seperti pengajian, tausiyah, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan yang melibatkan warga sekitar.
Keberadaannya juga memberikan ruang bagi masyarakat maupun wisatawan untuk menikmati suasana pesisir Bontang dengan nuansa religius.
Seiring meningkatnya aktivitas di sekitar kawasan tersebut, pemerintah daerah kembali mengalokasikan anggaran tambahan untuk mendukung keamanan bangunan masjid.
Melalui APBD Kota Bontang 2025, Pemerintah Kota menganggarkan sekitar Rp5 miliar untuk pembangunan pagar pengaman di area laut sekitar masjid.
Dilansir dari laman Sekretariat Pemkot Bontang, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang, Much Cholis Edi Prabowo, menjelaskan pagar pengaman ini dibuat untuk mengantisipasi benturan kapal nelayan yang melintas di sekitar area masjid.
Lokasi masjid yang berada dekat dengan jalur aktivitas pelabuhan membuat perlindungan tambahan dinilai penting untuk menjaga konstruksi bangunan.
Selain pagar pengaman, sebagian anggaran juga digunakan untuk penataan lanskap halaman masjid guna mempercantik kawasan tersebut.
Daya Tarik Wisata Religi
Keunikan arsitektur serta lokasinya yang berada di atas laut menjadikan masjid ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi yang cukup populer di Kota Bontang.
Banyak pengunjung datang tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga menikmati suasana laut dan angin pesisir yang sejuk.
Salah satu pengunjung, Amir (40) mengaku sering beribadah di masjid tersebut karena suasananya yang nyaman.
“Masjidnya bagus dan bersih. Setelah salat biasanya saya ke anjungan untuk melihat laut dan merasakan angin yang sepoi-sepoi. Rasanya damai sekali,” ujarnya singkat kepada Narasi.co.
Suasana Ramadan di Masjid Terapung
Memasuki bulan Ramadan, aktivitas di Masjid Terapung Darul Irsyad Al Muhajirin juga meningkat.
Marbut masjid, Abdul Haris, mengatakan setiap Ramadan jumlah jemaah yang datang biasanya lebih ramai dibanding hari biasa.
Menurutnya, selain salat lima waktu, jamaah juga rutin melaksanakan salat tarawih serta berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
“Kalau Ramadan biasanya jamaah lebih ramai, terutama saat salat tarawih. Banyak juga warga yang datang dari luar untuk merasakan salat di masjid terapung ini,” ujarnya saat diwawancarai Narasi.co, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menambahkan, suasana masjid yang berada tepat di atas laut memberikan pengalaman ibadah yang berbeda bagi jamaah.
“Banyak yang bilang suasananya lebih tenang. Setelah ibadah biasanya mereka duduk di anjungan melihat laut sambil menikmati angin malam,” katanya.
Menurut Abdul Haris, keberadaan masjid ini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Selambai, tetapi juga menjadi salah satu simbol religi yang memperkuat identitas Kota Bontang sebagai kota pesisir yang religius.

