BONTANG: Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul semakin seringnya kemunculan Buaya di wilayah pesisir.
Ia secara tegas mengimbau warga agar tidak berenang di laut maupun perairan yang berpotensi menjadi habitat satwa predator tersebut.
Imbauan itu disampaikan Neni setelah adanya sejumlah laporan masyarakat terkait kemunculan buaya di beberapa titik perairan yang berdekatan dengan permukiman warga.
Menurutnya, sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar 25 laporan kemunculan buaya di berbagai wilayah di Bontang. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di kawasan pesisir.
“Untuk sementara masyarakat sebaiknya tidak berenang di laut. Ini sebagai langkah pencegahan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya saat ditemui di pendopo rumah jabatan wali kota, Senin, 9 Maret 2026.
Ia menjelaskan, keberadaan buaya di Bontang tidak hanya ditemukan di kawasan rawa maupun sungai, tetapi juga dapat muncul di perairan laut.
Kondisi tersebut membuat aktivitas warga di kawasan pesisir perlu lebih diperhatikan dari sisi keselamatan.
Kekhawatiran masyarakat terhadap keberadaan buaya juga meningkat setelah adanya insiden serangan terhadap seorang anak berusia 12 tahun yang terjadi di kawasan rawa Kelurahan Loktuan beberapa waktu lalu.
Peristiwa itu menjadi pengingat akan potensi bahaya satwa liar di sekitar permukiman.
Neni menilai salah satu faktor yang dapat memicu kemunculan buaya di perairan adalah keberadaan sumber makanan, termasuk limbah ikan yang dibuang ke laut.
“Buaya memiliki penciuman yang sangat kuat. Jika ada limbah ikan dibuang ke laut, mereka bisa tertarik datang ke lokasi tersebut,” jelasnya.
Selain faktor makanan, populasi buaya juga berpotensi bertambah karena kemampuan reproduksinya yang cukup tinggi.
Dalam sekali masa berkembang biak, seekor induk buaya dapat menghasilkan sekitar 30 butir telur.
Untuk mengantisipasi potensi konflik antara manusia dan satwa liar tersebut, Pemerintah Kota Bontang telah melakukan koordinasi dengan dinas terkait serta lembaga yang menangani konservasi kawasan pesisir.
Salah satu opsi yang dibahas adalah penggunaan senapan bius untuk membantu petugas melakukan evakuasi buaya dari jarak aman apabila muncul di area yang dekat dengan aktivitas masyarakat.
“Kalau buaya berada di air tentu sulit ditangkap. Karena itu ada usulan penggunaan senapan bius agar penanganannya bisa dilakukan dari jarak aman,” tutup Neni.

