SAMARINDA: Operasi Pekat Mahakam 2026 yang digelar Kepolisian Resor Kota (Polresta) Samarinda tidak hanya mencatat puluhan pengungkapan kasus, tetapi juga dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat.
Salah satunya dialami Muhammad Dimas Adi Saputra, yang sempat menjadi korban aksi pemalakan di kawasan Tepian Mahakam.
Dimas menceritakan, peristiwa tersebut terjadi pada 28 Februari 2026 saat dirinya sedang bersantai di Taman Tepian Mahakam, tepatnya di depan Masjid Islamic Center Samarinda.
Saat itu, ia didatangi sejumlah pengamen. Ketika tidak memberi, alih-alih menerima, pengamen malah terkesan memaksa.
Menurutnya, situasi sempat memanas. Penolakan tersebut justru membuat para pengamen memaksa hingga terjadi adu mulut.
“Waktu itu saya lagi duduk santai di Tepian depan Islamic Center. Tiba-tiba ada beberapa pengamen datang meminta uang. Saya menolak, tapi mereka tetap memaksa,” ujarnya, Selasa, 24 Maret 2026.
Merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut, Dimas kemudian melaporkan kejadian itu kepada anggota Polresta Samarinda yang sedang melaksanakan Operasi Pekat Mahakam.
Ia mengaku terkejut dengan respons cepat aparat kepolisian yang langsung bergerak setelah menerima laporan.
“Setelah saya buat laporan, tidak lama polisi langsung bergerak. Dalam waktu sekitar satu sampai dua jam pelakunya sudah tertangkap,” ungkapnya.
Dimas menilai langkah cepat tersebut menunjukkan keseriusan aparat dalam menindak aksi premanisme yang kerap meresahkan masyarakat, khususnya di ruang publik seperti kawasan Tepian Mahakam.
Selain Dimas, warga lain bernama Wahyu Retno Kurniasih juga merasakan dampak positif dari pelaksanaan operasi tersebut. Menurutnya, peningkatan patroli kepolisian selama operasi berlangsung memberikan rasa aman bagi masyarakat.
“Ya tentunya saya merasakan dampaknya, apalagi di momen Lebaran ini tingkat kejahatan bisa meningkat. Tapi dengan adanya patroli polisi dan pos penjagaan, saya merasa lebih aman,” kata Retno.
Ia mengaku sempat melihat langsung aktivitas patroli aparat di beberapa titik kota. Di wilayah tempat tinggalnya di Samarinda Seberang, situasi keamanan disebut tetap kondusif tanpa adanya gangguan berarti.
“Di beberapa titik memang ada pos penjagaan. Kalau di daerah saya di Samarinda Seberang, aman-aman saja, tidak ada kejadian yang mengganggu,” jelasnya.
Operasi Pekat Mahakam 2026 dilaksanakan sejak 18 Februari hingga 10 Maret 2026. Operasi ini bertujuan memberantas berbagai bentuk penyakit masyarakat yang kerap meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri.
Kepolisian mencatat sebanyak 79 kasus berhasil diungkap selama operasi berlangsung. Rinciannya terdiri dari 48 tindak pidana dan 31 tindak pidana ringan.
Kapolresta Samarinda, Komisaris Besar Polisi Hendri Umar, sebelumnya menjelaskan operasi tersebut menyasar berbagai bentuk kejahatan seperti pencurian, premanisme, perjudian, penyalahgunaan senjata tajam maupun senjata api, hingga peredaran minuman keras.
“Operasi Pekat bertujuan membersihkan penyakit masyarakat dan menekan angka kriminalitas,” ujarnya.
Dari hasil operasi tersebut, polisi juga menetapkan 89 orang sebagai tersangka. Sebagian besar kasus yang diungkap berkaitan dengan pencurian dan penyalahgunaan senjata tajam di tempat umum.

