SAMARINDA: Aktivitas permainan water gel blaster di kawasan Taman Bebaya Samarinda yang sempat disalahartikan sebagai aksi teror akhirnya mendapat penjelasan dari komunitas yang menjalankannya.
Koordinator komunitas Water Gel Blaster Samarinda, Sanjaya, menegaskan kegiatan tersebut merupakan aktivitas hobi yang dilakukan secara terorganisasi dan mengutamakan keamanan.
Sanjaya menjelaskan, permainan yang dilakukan bersama anggota komunitas di Taman Bebaya bukanlah aksi berbahaya seperti yang sempat beredar di media sosial.
Menurutnya, kegiatan tersebut justru menjadi sarana hiburan sekaligus edukasi bagi masyarakat agar permainan tersebut dilakukan di tempat dan komunitas yang tepat.
“Hari ini kita ingin seru-seruan sekaligus mengedukasi. Karena masih banyak yang main di sembarang tempat. Padahal sebenarnya ada wadahnya, ada komunitasnya, dan ada arenanya,” ujarnya saat ditemui di Taman Bebaya Samarinda, Selasa, 24 Maret 2026.
Ia mengatakan, komunitas Water Gel Blaster Samarinda dibentuk sebagai wadah bagi para penggemar permainan tersebut agar dapat menyalurkan hobi secara tertib dan tidak mengganggu masyarakat.
“Tujuan kita sebenarnya mengedukasi. Komunitas ini juga yang kembali mengeksiskan permainan ini di Samarinda, jadi kita ingin menunjukkan kalau ada wadah resmi untuk bermain,” jelasnya.
Menurut Sanjaya, komunitas tersebut terbuka bagi masyarakat yang ingin bergabung. Namun setiap anggota tetap harus mengikuti aturan yang telah disepakati bersama, termasuk terkait keamanan selama bermain.
“Komunitas ini terbuka untuk umum. Yang penting ikut aturan. Biasanya minimal gabung dulu dengan komunitas dan punya unit water gel blaster sendiri,” katanya.
Ia juga menegaskan aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam setiap kegiatan yang dilakukan komunitas tersebut.
“Yang pasti kita selalu mengutamakan keamanan. Ada aturan-aturan yang harus dipatuhi, termasuk soal tempat bermain dan batasan-batasannya,” tegasnya.
Sanjaya berharap masyarakat tidak lagi salah memahami permainan tersebut sebagai aktivitas yang berbahaya. Ia menilai permainan water gel blaster lebih mirip aktivitas olahraga atau permainan rekreasi yang dilakukan secara bersama-sama.
“Permainan ini sebenarnya seperti olahraga juga. Kalau mau main, sebaiknya melalui komunitas supaya terorganisasi dan tidak sembarangan tempat,” ujarnya.
Sebelumnya, aktivitas permainan water gel blaster di Taman Bebaya pada 18 Maret 2026 sempat menjadi perhatian publik setelah beredar narasi di media sosial yang menyebut adanya dugaan aksi teror.
Hal ini juga turut mendapatkan respon sekaligus penegasan dari Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, Ia memastikan informasi tersebut tidak benar setelah dilakukan pengecekan di lapangan.
“Setelah kami cek, itu hanya kegiatan hiburan menggunakan senjata mainan jenis water gel. Bukan aksi teror seperti yang sempat beredar di media sosial,” kata Hendri.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut dilakukan oleh sekelompok pemuda yang saling mengenal dan berlangsung pada malam hari menjelang waktu sahur.
“Mereka ini sebenarnya teman-teman semua. Saat waktu sahur mereka berkumpul dan melakukan aktivitas bermain menggunakan senjata mainan air,” jelasnya.
Polresta Samarinda juga telah berkoordinasi dengan sejumlah akun media sosial yang menyebarkan narasi keliru tersebut agar konten yang menimbulkan kesalahpahaman dapat diperbaiki atau diturunkan.
Melalui klarifikasi tersebut, kepolisian berharap masyarakat lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di tengah masyarakat.

