BONTANG: Di tengah bentangan laut biru Kota Bontang, terdapat sebuah pulau kecil yang unik, bahkan sering disebut “pulau misterius”. Namanya Pulau Segajah, sebuah daratan mungil yang hanya muncul saat air laut surut, lalu perlahan menghilang ketika pasang datang.
Fenomena ini membuat Pulau Segajah bukan sekadar destinasi wisata biasa, melainkan pengalaman alam yang tak selalu bisa dinikmati setiap waktu.
Pulau Segajah terletak di perairan Bontang Kuala, tidak jauh dari kawasan pemukiman pesisir. Untuk mencapai lokasi ini, wisatawan harus menyeberang menggunakan perahu nelayan.
Dari pusat Kota Bontang, perjalanan darat menuju Bontang Kuala memakan waktu sekitar 15–25 menit. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan perahu selama 20–30 menit, tergantung kondisi cuaca dan gelombang laut.
Biasanya wisatawan menyewa perahu dari nelayan setempat dengan sistem antar-jemput. Waktu terbaik berangkat adalah saat air laut mulai surut agar bisa menikmati pulau lebih lama.
Saat muncul, Pulau Segajah menawarkan pemandangan yang sederhana, namun justru itulah daya tariknya.
Hamparan pasir putih yang dikelilingi air laut jernih menciptakan suasana tenang dan eksotis. Tidak ada pepohonan besar, tidak ada bangunan, hanya laut luas dan langit terbuka. Tak jarang, ada bintang laut juga yang beterbangan
Tempat ini juga sangat cocok untuk foto estetik di tengah laut, bersantai menikmati suasana sunyi, menikmati panorama laut Bontang dari sudut berbeda.
Banyak wisatawan menyebut Pulau Segajah sebagai “spot foto minimalis alami” karena keindahannya yang bersih dan tidak ramai.
Salah satu pengunjung, Arif, mahasiswa asal Kebumen, Jawa Tengah, mengaku datang ke Bontang karena diajak rekan satu kampus yang tinggal di Bontang untuk melihat langsung fenomena Pulau Segajah yang sempat ia lihat di media sosial.
“Selain karena diajak, saya juga penasaran karena katanya pulau ini bisa hilang kalau air pasang. Pas datang ternyata benar, unik sekali,” ujarnya, Sabtu, 4 April 2026.
Ia menilai pengalaman berkunjung ke Pulau Segajah berbeda dengan destinasi wisata pantai pada umumnya karena suasananya yang lebih tenang dan alami.
“Tempatnya sederhana, tapi justru itu yang bikin berkesan. Tidak ramai dan benar-benar terasa alamnya,” tambahnya.
Selain sebagai tempat wisata, Pulau Segajah juga menyimpan nilai edukasi yang menarik.
Fenomena muncul dan tenggelamnya pulau ini berkaitan langsung dengan pasang surut air laut, yang dipengaruhi oleh gravitasi bulan dan matahari.
Bagi pelajar maupun wisatawan, ini menjadi pengalaman nyata untuk memahami siklus pasang surut, dinamika garis pantai, ekosistem laut dangkal.
Pulau ini seakan menjadi “laboratorium alam terbuka” yang memperlihatkan bagaimana laut bekerja.
Karena sifatnya yang alami dan tidak permanen, Pulau Segajah tidak memiliki fasilitas wisata seperti toilet, tempat makan, atau penginapan.
Karena itu, wisatawan perlu mempersiapkan, air minum dan makanan sendiri, pelindung panas topi/tabir surya, perahu sewaan dari nelayan lokal.
Hal terpenting adalah memperhatikan waktu. Jika datang terlambat, pulau bisa cepat tenggelam sehingga waktu kunjungan menjadi sangat singkat.

