SAMARINDA: Semangat pemberdayaan masyarakat ditunjukkan oleh jemaat Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Mangkupalas yang menginisiasi pendirian Sekolah Lansia Santa Matilda secara mandiri tanpa bergantung pada alokasi anggaran pemerintah.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian pihak gereja terhadap banyaknya lansia di wilayah tersebut yang dinilai kurang memiliki kegiatan produktif dan memerlukan ruang untuk bersosialisasi agar tetap bahagia di masa tua.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Deasy Evriyani menjelaskan bahwa seluruh pembiayaan kegiatan ini murni berasal dari swadaya dan inisiatif masyarakat, mulai dari penyediaan tempat hingga kebutuhan operasional lainnya.
“Kegiatan ini betul-betul inisiasi dan swadaya dari Gereja Paroki. Romo dan para Suster melihat banyak lansia yang kurang kegiatan, sehingga kami ingin menciptakan wadah agar mereka tetap sehat dan bahagia,” ujarnya, Jumat, 10 April 2026.
Menurutnya, kemandirian sekolah ini terlihat dari sistem pendanaan unik yang diterapkan oleh para peserta.
Katanya, guna menutupi biaya pemeriksaan kesehatan dan kebutuhan wisuda nantinya, para lansia sepakat mengadakan iuran rutin bulanan.
“Ada iuran namanya arisan sekolah lansia. Masing-masing peserta iuran sekitar Rp5.000 atau Rp10.000 setiap bulan untuk kas mereka. Jadi nanti saat wisuda, mereka beli perlengkapannya sendiri. Betul-betul tidak ada anggaran APBD,” jelasnya.
Bahkan, kolaborasi ini juga melibatkan pihak akademisi dan sektor kesehatan setempat.
Dosen dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) turut hadir sebagai narasumber secara sukarela, sementara Puskesmas Harapan Baru memberikan dukungan tenaga medis.
“Narasumbernya gratis, tempat disediakan gereja. Bahkan untuk pemeriksaan kolesterol, asam urat, dan gula darah, karena keterbatasan bahan medis di Puskesmas, justru diinisiasi mandiri oleh pihak gereja,” imbuhnya.
Deasy menegaskan bahwa meskipun dilakukan secara swadaya, kualitas pembelajaran dipastikan tetap terjaga.
Terhitung sebanyak 27 peserta, termasuk yang tertua berusia 79 tahun, sangat antusias mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan.
“Kami berharap semangat gotong royong ini bisa menjadi teladan bagi wilayah lain. Kami ingin keluarga di luar sana juga lebih memperhatikan lansianya, jangan disia-siakan karena merekalah pelindung dan pedoman kita,” pungkasnya.

