SAMARINDA: Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) DKPP Samarinda Maskuri, dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Samarinda memastikan, pada Hari Raya Iduladha 2026. Kondisi hewan kurban dalam keadaan aman dan bebas dari indikasi penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) maupun Lumpy Skin Disease (LSD).
Maskuri mengatakan, pihaknya terus melakukan pengawasan terhadap lalu lintas ternak yang masuk ke Samarinda. Termasuk pemeriksaan kesehatan hewan, di Rumah Potong Hewan (RPH) Tanah Merah dan sejumlah lapak penjualan hewan kurban.
“Di RPH Tanah Merah ini menjelang Iduladha memang ada pemotongan hewan kurban, tapi tidak semua. Sebagian dilakukan mulai hari lebaran sampai hari tasyrik,” kata Maskuri, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia menjelaskan, sebagian besar sapi kurban yang masuk ke Samarinda berasal dari luar daerah seperti Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kupang yang berstatus zona hijau PMK.
“Kalau sapi dari sini rata-rata dari Sulawesi dan dari Kupang. Dari sana sudah dilakukan pemeriksaan dan ada sertifikat veteriner sehingga dinyatakan sehat sebelum dikirim ke Kaltim,” ujarnya.
Meski berasal dari daerah aman, DKPP Samarinda tetap melakukan vaksinasi PMK terhadap hewan yang baru tiba di Samarinda sebagai langkah antisipasi tambahan.
“Kita dapat kabar sapi masuk, besok paginya langsung dilakukan vaksin PMK. Jadi mitigasi sudah dilakukan sejak awal tahun,” jelasnya.
Menurut Maskuri, vaksinasi PMK dan LSD telah digencarkan sejak Januari hingga Maret 2026. Melalui dukungan vaksin dari APBD dan pemerintah pusat, untuk mencegah munculnya penyakit menjelang Iduladha.
Selain vaksinasi, DKPP Samarinda juga membentuk tim pemeriksaan kesehatan hewan kurban yang turun langsung ke lapak penjualan, peternakan hingga RPH guna memastikan hewan yang diperjualbelikan memenuhi syarat kesehatan.
“Setiap hewan yang dijual wajib memiliki SKKH atau Surat Keterangan Kesehatan Hewan. Itu penting supaya masyarakat tahu hewan yang dibeli sudah diperiksa kesehatannya,” katanya.
DKPP Samarinda juga mengimbau masyarakat lebih teliti saat membeli hewan kurban, terutama yang dijual di pinggir jalan tanpa dokumen kesehatan yang jelas.
“Kalau tidak ada SKKH, masyarakat bisa melapor ke kami untuk dilakukan pemeriksaan,” ujarnya.
Sementara itu, jumlah hewan kurban yang masuk ke Samarinda terus mengalami peningkatan menjelang Iduladha. Hingga pertengahan Mei 2026, tercatat sekitar 15.400 ekor hewan kurban telah masuk ke Samarinda, terutama sapi.
Maskuri menyebut Samarinda tidak hanya menjadi lokasi penjualan, tetapi juga pusat distribusi hewan kurban ke sejumlah daerah lain seperti Tenggarong dan Bontang.
“Biasanya yang keluar sekitar 9.500 ekor sapi untuk kebutuhan kurban. Samarinda ini juga pusat trading untuk daerah sekitar,” katanya.
Selain sapi dan kambing, tren penggunaan domba sebagai hewan kurban mulai meningkat di Samarinda karena dinilai lebih terjangkau. Bahkan pada tahun lalu, tercatat ada empat ekor kerbau yang digunakan sebagai hewan kurban di kota tersebut.

