SAMARINDA: Dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
Kalimantan Timur (Kalrim) di Samarinda, Sabtu 20 Juni 2026, Pengusaha muda Ali Ridho, dipercaya memimpin PSI Bontang setelah dilantik langsung Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep.
Dengan begitu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Bontang resmi memiliki ketua baru.
Pelantikan tersebut sekaligus menjadi awal tantangan besar bagi Ridho. DPP PSI membebankan target percepatan konsolidasi organisasi, dengan membentuk struktur partai hingga tingkat kelurahan atau Dewan Pimpinan Ranting (DPRt) dalam waktu kurang dari 30 hari.
Ridho mengakui, keputusannya terjun ke dunia politik merupakan langkah baru setelah sebelumnya berkecimpung di dunia usaha.
Ia menyebut, telah melalui proses pertimbangan panjang sebelum akhirnya bergabung dan menerima amanah memimpin PSI Bontang.
“Ini pertama kalinya saya terjun ke dunia politik. Berpolitik bukan semata-mata soal meraih kekuasaan atau memenangkan kursi. Lebih dari itu, politik harus menjadi sarana memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Ridho, PSI memiliki kesamaan pandangan dengan dirinya, terutama dalam mendorong politik yang lebih inklusif dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.
Selain fokus membangun organisasi, Ridho menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam proses pembangunan daerah. Ia menilai selama ini anak muda kerap hanya dijadikan objek mobilisasi suara saat momentum politik, namun belum mendapatkan ruang yang cukup dalam proses pengambilan keputusan.
Menurutnya, Kota Bontang memiliki bonus demografi yang besar dan harus dikelola secara tepat agar menjadi kekuatan pembangunan, bukan justru menimbulkan persoalan baru di masa depan.
“Kami tidak ingin anak muda hanya menjadi objek eksploitasi politik. Mereka harus diberikan ruang menentukan arah pembangunan. Jika tidak dikelola dengan baik, bonus demografi bisa berubah menjadi bencana demografi,” tegasnya.
Melalui semangat “The New PSI”, Ridho berjanji akan membangun partai yang lebih terbuka, kolektif, dan berbasis gagasan untuk menarik partisipasi generasi muda yang selama ini cenderung apatis terhadap politik.
Meski demikian, tantangan terdekat yang harus dihadapi adalah menyelesaikan pembentukan kepengurusan tingkat kelurahan dalam waktu singkat.
Target tersebut disebut menjadi perhatian langsung dari DPP PSI, sebagai bagian dari penguatan struktur organisasi menjelang agenda politik mendatang.
“Ini menjadi atensi langsung dari Ketua Umum PSI. Kami diberi target menuntaskan struktur sampai tingkat kelurahan dalam waktu kurang dari 30 hari,” katanya.
Target tersebut dinilai menjadi ujian awal, bagi kepemimpinan Ridho untuk membuktikan kemampuannya mengonsolidasikan kader sekaligus memperkuat eksistensi PSI di tengah persaingan politik yang semakin dinamis di Kota Bontang.
Dengan waktu yang terbatas, Ridho kini dituntut bergerak cepat agar visi “The New PSI” tidak berhenti sebagai slogan, melainkan terwujud dalam penguatan organisasi hingga akar rumput.

