SAMARINDA: Jumlah titik panas atau hotspot di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menunjukkan tren penurunan. Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mengingatkan masyarakat agar tidak lengah karena asap sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih bertahan di atmosfer.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, penurunan titik panas terlihat dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pemantauan yang disampaikannya, jumlah titik panas yang sebelumnya berada di kisaran 600 kini turun menjadi sekitar 300.
Namun, ia menegaskan angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan jumlah kejadian kebakaran. Titik panas merupakan hasil pembacaan anomali suhu permukaan oleh satelit yang masih perlu divalidasi melalui pemeriksaan di lapangan.
“Kalau kita pahami, titik panas itu bukan kebakaran. Itu pembacaan anomali di darat terhadap suhu permukaan. Itu harus divalidasi oleh kita,” ujar Buyung, Senin, 19 Oktober 2026.
Berdasarkan data laporan yang diterima BPBD pada periode 16–18 Oktober, terdapat kecenderungan penurunan aktivitas kebakaran di sejumlah wilayah. Balikpapan, Berau, Bontang, dan Kutai Barat, misalnya, tidak tercatat menerima laporan kebakaran baru dalam periode tersebut.
Sementara di Kutai Kartanegara, laporan kebakaran terakhir yang disebutkan Buyung tercatat pada 16 Oktober. Dalam dua hari berikutnya, BPBD belum menerima laporan lanjutan. Meski begitu, ia menyebut aktivitas kebakaran masih ditemukan di sejumlah lokasi, termasuk kawasan Kutai Timur dan Sangatta.
Buyung berharap tren penurunan tersebut berlanjut seiring memasuki awal musim hujan yang diperkirakan berlangsung pada November. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi cuaca tidak sepenuhnya dapat diprediksi dan perilaku manusia tetap menjadi salah satu faktor penting dalam kejadian karhutla.
Ia mencontohkan, kebakaran di kawasan Belita telah berulang kali dipadamkan selama tiga hari berturut-turut, tetapi titik kebakaran kembali muncul. Kondisi itu menunjukkan bahwa penanganan di lapangan perlu dibarengi upaya mencegah pembakaran lahan.
“Kita tetap mengimbau masyarakat, sudah cukup asapnya. Ini bukan hanya mengganggu wilayah kita sendiri, tetapi juga sudah sampai menyusahkan negara tetangga,” terangnya.
Buyung menjelaskan, berkurangnya laporan kebakaran tidak berarti kabut asap langsung menghilang. Asap yang telah terakumulasi di atmosfer masih dapat bertahan dan memengaruhi kondisi udara, meskipun aktivitas kebakaran mulai menurun.
Menurutnya, hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung selama beberapa hari diharapkan membantu mengurangi asap yang masih berada di atmosfer. Hujan lokal yang terjadi di sejumlah wilayah dinilai belum cukup untuk memastikan asap benar-benar berkurang secara menyeluruh.
Ia mengatakan, perubahan kondisi langit dalam beberapa hari terakhir juga dipengaruhi oleh kemampuan sinar matahari menembus lapisan awan dan atmosfer. Karena itu, kondisi yang tampak lebih cerah dalam waktu singkat belum tentu menandakan seluruh asap telah hilang.
Buyung belum dapat memastikan berapa lama hujan diperlukan untuk mengurangi kabut asap secara signifikan. Menurutnya, hal tersebut bergantung pada kepadatan asap di atmosfer dan perlu dikonsultasikan lebih lanjut dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Ia juga menyinggung pemantauan kondisi asap melalui situs pemantauan atmosfer regional yang menunjukkan konsentrasi lebih pekat di sejumlah kawasan, termasuk Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
“Kami berharap penurunan titik panas dapat terus berlanjut hingga musim hujan tiba. Kami juga kembali mengingatkan masyarakat agar menghentikan praktik pembakaran lahan dan tidak menjadikan perkiraan datangnya hujan sebagai alasan untuk melakukan pembakaran sebelum musim hujan berlangsung,” pungkasnya.

