SAMARINDA: Pemerintah Kota Samarinda kini mulai meninggalkan konsep Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dan beralih ke fasilitas Pelican Crossing.
Langkah ini diambil demi menciptakan infrastruktur yang lebih inklusif dan modern.
Namun demikian, Komisi III DPRD Kota Samarinda menegaskan bahwa transisi ini menuntut penguatan regulasi serta edukasi masyarakat yang masif.

Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar menjelaskan bahwa perubahan ini merupakan arahan langsung dari kementerian.
Tujuannya adalah menyediakan fasilitas publik yang ramah bagi semua kalangan, terutama kelompok lanjut usia dan penyandang disabilitas yang sering kali kesulitan saat harus menanjak anak tangga JPO yang tinggi.
“Berdasarkan arahan kementerian, kita memang diarahkan menggunakan Pelican Crossing. Ini otomatis memudahkan warga lanjut usia dan disabilitas yang seringkali kesulitan jika harus menanjak JPO,” ujarnya kepada awak media, Selasa, 14 April 2026.
Selain faktor inklusivitas, kondisi fisik JPO di Samarinda juga menjadi pertimbangan serius perubahan ini dilakukan.
Deni mengungkapkan bahwa mayoritas JPO di titik strategis, seperti kawasan Pasar Pagi dan Jalan Juanda, sudah berusia di atas 30 tahun.
“Kualitas konstruksi yang sudah lama tersebut dinilai rawan dan memerlukan uji kelayakan ulang jika ingin tetap dipertahankan,” terangnya.
Meski lebih memudahkan, Deni menyebut implementasi Pelican Crossing menghadapi tantangan besar, salah satunya rendahnya kedisiplinan pengguna jalan.
Di mana masih banyak ditemukan pejalan kaki maupun pengendara yang mengabaikan lampu rambu penyeberangan tersebut.
Deni menekankan bahwa kecanggihan fasilitas tidak akan berarti tanpa tatanan hukum yang kuat dan kesadaran individu.
Ia mengibaratkan hal ini dengan sulitnya mendisiplinkan masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga; tanpa regulasi ketat, perubahan perilaku sulit tercapai.
Deni kemudian memberikan perumpamaan dengan pengelolaan sampah rumah tangga yang hingga kini masih sulit didisiplinkan dalam hal pemilahan.
Menurutnya, tanpa kesadaran dan regulasi yang ketat, fasilitas secanggih apa pun tidak akan berfungsi maksimal.
Selain itu, ia menyoroti insiden kecelakaan lalu lintas baru-baru ini yang memakan korban jiwa.
Baginya, kunci utama dari keselamatan di jalan raya adalah kepatuhan individu terhadap aturan yang ada.
“Apapun konsepnya, kuncinya ada pada diri kita sendiri. Saat kita hati-hati dan mematuhi aturan jalan, insyaallah akan selamat. Pelican Crossing ini penting, tapi kedisiplinan tetap poin paling utama,” pungkasnya.

