SAMARINDA: Perpustakaan Kota Samarinda kini hadir dengan wajah baru yang lebih ramah pengunjung.
Jam operasional diperpanjang hingga malam hari, fasilitas diperbarui, dan kegiatan literasi semakin variatif untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan akses informasi dan budaya membaca.
Kepala Bidang Pengembangan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda, Ernawati, menjelaskan langkah ini sejalan dengan komitmen meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
“Kegiatan literasi, inklusi sosial, hingga pendataan perpustakaan sekolah kami lakukan meski anggaran tahun ini cukup terbatas akibat rasionalisasi. Kami berusaha melaksanakan program yang paling prioritas,” ujarnya.
Jika sebelumnya hanya dibuka sampai sore, kini perpustakaan melayani pengunjung hingga pukul 20.00 Wita setiap Senin sampai Kamis.
Khusus Jumat, layanan dibuka hingga pukul 15.00, sementara akhir pekan pada Sabtu buka pukul 09.00–13.00.
Perubahan ini diharapkan memberi ruang lebih luas bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk mengakses bacaan.
Fasilitas yang tersedia antara lain ruang baca dengan kursi ergonomis, koleksi buku fiksi dan nonfiksi, referensi akademik, hingga terbitan terbaru.
Tersedia pula ruang diskusi dengan perangkat audio-visual, area komputer dengan internet gratis, serta ruang anak yang dilengkapi bacaan dan permainan edukatif.
Untuk mendukung kenyamanan, perpustakaan menambahkan pojok kopi, Wi-Fi gratis, area parkir aman, hingga fasilitas ramah difabel.
Sistem peminjaman online juga dihadirkan, memudahkan anggota meminjam dan mengembalikan buku secara praktis.
Pengunjung dapat menemukan beragam kategori bacaan mulai dari bahasa, filsafat, agama, ilmu sosial, novel, literatur anak, hingga koleksi khusus penyandang disabilitas.
Selain itu, perpustakaan rutin menggelar kegiatan literasi, seperti diskusi buku, workshop penulisan, pameran buku, hingga lomba bercerita saat Bulan Baca Nasional.
Ernawati menambahkan, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai penyedia buku, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan pengetahuan.
“Perpustakaan adalah ujung tombak kecerdasan masyarakat. Kalau tidak membaca, kita tidak akan tahu dunia. Karena itu, kami ingin mengubah paradigma agar perpustakaan tidak dipandang sebelah mata,” tegasnya.
Untuk memperluas jangkauan, Dinas Perpustakaan Kota Samarinda juga melakukan pembinaan dan sosialisasi kepada kepala sekolah maupun pengelola perpustakaan sekolah.
Namun, Ernawati menilai masih ada sekolah yang menganggap perpustakaan belum menjadi prioritas.
“Kesadaran sebagian sekolah masih kurang, padahal keberadaan perpustakaan sangat penting untuk akreditasi dan peningkatan mutu pendidikan. Kami terus dorong agar sekolah melihat perpustakaan sebagai aset penting,” tambahnya.

