BONTANG: Penerapan tarif baru air bersih di Bontang mulai menuai beragam respons dari masyarakat.
Sejumlah pelanggan mengeluhkan lonjakan tagihan, bahkan hingga ratusan ribu rupiah per bulan.
Namun, pihak Perumda Tirta Taman Bontang menilai kenaikan tersebut umumnya bukan semata akibat perubahan tarif, melainkan dipicu tingginya konsumsi air.
Direktur Perumda Tirta Taman, Suramin, menjelaskan tarif baru mulai berlaku untuk periode pemakaian 20 Februari hingga 20 April 2026.
“Normalnya pelanggan menggunakan 20 kubik per bulan. Untuk rumah tangga, itu sudah cukup besar, setara sekitar 100 drum,” ujarnya, Rabu, 8 April 2026.
Menurut Suramin, jika penggunaan air berada dalam batas normal, tagihan bulanan sebenarnya masih tergolong wajar.
Untuk pelanggan Rumah Tangga 1, total tagihan diperkirakan sekitar Rp92.500 per bulan. Sementara Rumah Tangga 2 sekitar Rp110.000, dan Rumah Tangga 3 berada di kisaran Rp122.500, setelah ditambah biaya administrasi dan komponen lainnya.
Ia menyebut, secara umum beban tersebut hanya sekitar empat persen dari pengeluaran masyarakat jika mengacu pada Upah Minimum Kota (UMK) Bontang.
“Kalau dilihat dari simulasi ini, pembayaran normal masih sekitar empat persen dari pengeluaran berdasarkan UMK Bontang,” jelasnya.
Meski demikian, Suramin mengakui di lapangan ditemukan sejumlah kasus lonjakan tagihan yang cukup tinggi.
Setelah ditelusuri, sebagian besar dipicu oleh pemakaian air yang tidak terkontrol.
Salah satu faktor utama adalah penggunaan satu sambungan meter air untuk beberapa unit rumah kontrakan sekaligus.
Dalam beberapa kasus, satu meter digunakan hingga empat sampai sepuluh pintu rumah.
Akibatnya, total konsumsi air terakumulasi dalam satu sambungan dan masuk ke blok tarif yang lebih tinggi.
Selain itu, kebocoran pipa di rumah pelanggan juga kerap menjadi penyebab meningkatnya konsumsi air tanpa disadari.
“Kalau ada lonjakan pemakaian secara tiba-tiba, segera laporkan agar bisa dicek. Bisa saja ada kebocoran atau pemakaian yang tidak terkontrol,” katanya.
Perumda menyarankan agar setiap rumah tangga memiliki sambungan meter air sendiri, terutama untuk rumah kontrakan.
Idealnya, satu meter digunakan untuk satu keluarga dengan jumlah anggota maksimal empat orang.
Langkah ini dinilai penting agar penggunaan air lebih terkontrol serta memudahkan perhitungan tagihan masing-masing penghuni.
Selain itu, pelanggan juga diimbau rutin memeriksa instalasi pipa untuk menghindari kebocoran yang dapat menyebabkan pembengkakan tagihan.
Sebagai informasi, tarif air di Bontang kini menggunakan sistem bertingkat.
Artinya, semakin besar volume pemakaian air, maka tarif per meter kubik juga akan semakin mahal.
Belakangan, keluhan masyarakat sempat ramai di media sosial, dengan beberapa pelanggan mengaku tagihan melonjak drastis hingga jutaan rupiah.
Namun berdasarkan data yang dihimpun, kasus tersebut umumnya terjadi pada pelanggan dengan konsumsi sangat tinggi, bahkan mencapai 181 meter kubik per bulan.
Akibatnya, tagihan bisa menembus sekitar Rp2 juta, sementara lainnya berkisar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu.
Perumda pun menegaskan, pengendalian penggunaan air menjadi kunci utama agar tagihan tetap stabil dan tidak membebani pelanggan.

