BONTANG: Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menyiapkan langkah alternatif untuk mengatasi akses utama di Jalan Piere Tendean, Kelurahan Bontang Kuala, yang kerap terendam banjir rob.
Jika rencana pembangunan jalan layang (flyover) dari pemerintah pusat belum terealisasi, pemkot akan menempuh solusi sementara berupa peninggian trotoar sebagai jalur aman bagi warga.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengatakan persoalan ini kembali mengemuka dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027.
Dalam forum tersebut, perwakilan warga mengeluhkan kondisi jalan yang sering lumpuh saat air laut pasang.
Bahkan, genangan bisa bertahan hingga 10 hari dan mengganggu aktivitas, terutama anak-anak yang hendak pergi ke sekolah.
“Yang paling penting adalah memastikan warga tetap punya akses yang aman. Terutama anak-anak yang setiap hari harus berangkat sekolah melewati jalan itu,” tegas Neni.
Pemkot sebelumnya telah mengusulkan pembangunan flyover ke pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Komisi V DPR RI, mengingat status jalan tersebut merupakan jalan nasional.
“Kita sudah usulkan ke pusat untuk pembangunan jalan layang sebagai solusi jangka panjang. Karena itu jalan nasional, jadi kita tetap dorong agar masuk prioritas nasional,” ujarnya.
Namun, sembari menunggu kepastian dari pusat, pemerintah daerah tidak ingin berpangku tangan.
Jika proyek tersebut belum masuk APBN 2027, pemkot akan mengalokasikan anggaran daerah untuk membangun trotoar tinggi.
Rencananya, trotoar akan dibangun sepanjang sekitar 900 meter dengan lebar 1,5 meter dan ketinggian sekitar 60 sentimeter dari badan jalan.
Jalur ini difungsikan sebagai akses darurat saat banjir rob terjadi.
“Kalau dari pusat belum terealisasi, kita siapkan alternatifnya lewat APBD. Trotoar itu nanti bisa dipakai warga saat rob supaya aktivitas tetap berjalan,” jelasnya.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, pemkot menyiapkan anggaran sekitar Rp40 miliar pada tahun 2027.
Pembangunan akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari satu sisi jalan.
Selain itu, pemerintah juga mulai melakukan persiapan teknis, termasuk penataan dan sterilisasi lahan agar proses pembangunan nantinya berjalan lancar.
Neni menegaskan, penanganan akses di Bontang Kuala sangat penting karena kawasan ini tidak hanya menjadi jalur utama warga, tetapi juga merupakan kampung wisata bahari yang menjadi ikon kota.
Selama ini, banjir rob kerap merendam jalan hingga setinggi betis orang dewasa, sehingga menghambat aktivitas masyarakat, terutama pada pagi hari.
Dengan langkah ini, pemkot berharap mobilitas warga tetap terjaga, sembari menunggu solusi permanen dari pemerintah pusat melalui pembangunan jalan layang.

