SAMARINDA: Agar memiliki standar pelaksanaan yang dapat diterapkan secara konsisten di setiap pesantren, wacana pembentukan pesantren ramah anak perlu dibarengi, dengan regulasi yang jelas.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan tujuan mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman bagi anak merupakan langkah positif.
Namun, upaya tersebut dinilai perlu dibarengi dengan regulasi yang jelas agar memiliki standar pelaksanaan yang dapat diterapkan secara konsisten di setiap pesantren. Juga perlu, mendapat dukungan dari DPRD Kota Samarinda.
Sri Puji Astuti, mengatakan, tujuan mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman bagi anak merupakan langkah positif.
Meski demikian, hingga kini belum terdapat aturan maupun indikator, yang menjadi acuan dalam penerapan konsep pesantren ramah anak.
“Kami menyambut baik, kalau memang ada wacana menciptakan pesantren yang ramah anak. Hanya saja, kami melihat regulasinya belum ada. Belum ada indikator maupun standar pelayanan minimal yang menjadi acuan bagi pesantren,” ujarnya.
Ia menilai, keberadaan regulasi penting agar setiap lembaga pendidikan memiliki pedoman yang sama dalam memberikan perlindungan kepada anak. Mulai dari aspek pencegahan kekerasan hingga mekanisme penanganan apabila terjadi pelanggaran.
Menurut Sri Puji, prinsip sekolah ramah anak seharusnya berlaku di seluruh satuan pendidikan, baik sekolah umum maupun pesantren. Hal itu menjadi semakin penting setelah muncul sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan lingkungan pendidikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Goal-nya tentu kita ingin menciptakan sarana pendidikan, baik pesantren maupun sekolah umum, yang benar-benar ramah anak,” katanya.
Ia juga menilai, pesantren kini mulai menunjukkan keterbukaan dalam melakukan pembenahan sistem pengelolaan.
Jika sebelumnya banyak pesantren terkesan tertutup, kini sejumlah lembaga pendidikan berbasis pesantren. Mulai bertransformasi menjadi lebih modern dan terbuka terhadap pengawasan.
“Dengan berbagai persoalan yang terjadi di dunia pendidikan, termasuk kasus kekerasan di pesantren, sekarang mulai ada keterbukaan. Ini menjadi langkah yang baik untuk mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih aman bagi anak,” pungkasnya.

