SAMARINDA: Aksi unjuk rasa yang digelar ribuan massa di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur mencapai puncaknya pada Selasa sore 21 April.
Massa yang didominasi mahasiswa mulai memadati Jalan Gajah Mada sejak pukul 14.20 Wita setelah bergerak dari Kantor DPRD Kaltim.
Dalam perjalanan menuju titik aksi, massa berjalan kaki sambil menyanyikan lagu perjuangan. Selain mahasiswa, aksi ini juga diikuti oleh elemen masyarakat adat yang turut menyuarakan tuntutan.
Setibanya di depan Kantor Gubernur, massa langsung melakukan konsolidasi dan meneriakkan berbagai slogan, termasuk seruan “Lengserkan Rudy Mas’ud” yang disambut riuh oleh peserta aksi.
Kehadiran massa disambut imbauan aparat melalui pengeras suara. Namun, respons yang muncul justru berupa sorakan dari peserta aksi.
Situasi mulai memanas ketika massa berhasil menggeser kawat berduri yang dipasang aparat di sekitar pagar kantor gubernur. Bahkan, sejumlah spanduk milik Pemerintah Provinsi Kaltim turut dirobek.
Sekitar pukul 14.30 Wita, gelondongan kawat besi yang menjadi pembatas berhasil diruntuhkan dan diamankan oleh massa, sehingga akses ke area depan pagar menjadi lebih terbuka.
Orasi dari berbagai elemen mahasiswa pun silih berganti. Perwakilan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Samarinda menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
“Hari ini Pemprov Kaltim mencederai rakyatnya sendiri. Rumah jabatan sampai Rp25 miliar. Pak Gubernur, Pak Wakil Gubernur, kami kecewa. Pemprov tidak pro rakyat,” ujar salah satu orator.
Sementara itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Universitas Mulawarman dalam orasinya juga menyinggung momentum Hari Kartini sebagai simbol perjuangan dan keberanian menyuarakan aspirasi.
Massa juga menyoroti dugaan praktik nepotisme di lingkungan pemerintahan, dengan menyebut adanya keluarga Gubernur yang menduduki posisi strategis.
Di tengah aksi, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud sempat terlihat dari dalam ruang kerjanya mengenakan seragam cokelat dan memantau jalannya aksi. Hal itu memicu reaksi massa yang langsung meneriakkan “turun, turun, turun” sambil mengacungkan tangan.
Ketegangan kembali meningkat sekitar pukul 15.15 Wita, saat massa berusaha mencopot kawat besi yang terpasang di atas pagar halaman kantor gubernur. Secara perlahan, kawat yang telah dilas mulai terlepas.
Di sisi lain, pengamanan juga diperketat. Videotron di area kantor gubernur terlihat telah diamankan menggunakan lapisan kayu untuk menghindari kerusakan.
Aksi berlangsung dinamis dengan massa yang terus menyuarakan tuntutan melalui orasi dan nyanyian lagu kebangsaan seperti “Tanah Air Beta”. Sejumlah spanduk juga dipasang, salah satunya bertuliskan “Pemprov Tidak Becus, Rakyat Tak Terurus”.
Setiap imbauan aparat melalui pengeras suara kerap disambut teriakan massa yang meminta untuk tidak mengganggu jalannya aksi.
Menjelang waktu Ashar, aparat mengumumkan akan dilaksanakan salat berjamaah. Massa kemudian diinstruksikan untuk duduk oleh koordinator aksi dari atas mobil komando.
Tak lama kemudian, suara adzan berkumandang, bahkan salah satu peserta aksi dari atas mobil komando turut mengumandangkan adzan.
Memasuki waktu salat Ashar, massa menghentikan sementara orasi dan beristirahat. Hingga sore hari, situasi aksi masih berlangsung dengan pengawalan ketat aparat keamanan.

