SAMARINDA: Wali Kota Andi Harun menegaskan pentingnya transformasi Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam dan Forum Alumni HMI-Wati menjadi elemen civil society yang aktif dalam menghasilkan gagasan strategis bagi pembangunan daerah.
Hal tersebut disampaikan Andi Harun saat memberikan arahan dalam forum Musyawarah Daerah (Musda) KAHMI VI dan Forhati IV di Samarinda, Sabtu, 25 April 2026.
Menurutnya, sebagai organisasi yang lahir dari tradisi intelektual, KAHMI dan Forhati tidak boleh hanya berfungsi sebagai wadah reuni atau perkumpulan semata.
Ia menekankan pentingnya peran aktif dalam menjawab tantangan global maupun lokal melalui pemikiran yang konstruktif.
“KAHMI dan Forhati tidak cukup sekadar disebut sebagai organisasi alumni, tetapi ia harus menjelma menjadi civil society. Alumni tidak boleh ditafsirkan berhenti bergerak, karena peran itu harus terus melekat seperti kulit dan daging,” ujarnya.
Andi Harun menjelaskan, tantangan yang dihadapi saat ini menuntut refleksi mendalam terkait posisi organisasi, apakah tetap menjadi produsen gagasan atau justru hanya menjadi bagian dari jejaring kekuasaan tanpa kontribusi nyata.
Ia mengingatkan, organisasi akan kehilangan relevansi jika hanya menjadi ruang berkumpul tanpa menghasilkan pemikiran yang berdampak bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Andi Harun juga menyoroti isu krusial terkait ketahanan pangan di Kalimantan Timur.
Ia mengungkapkan bahwa ketergantungan daerah terhadap pasokan pangan dari luar masih sangat tinggi.
“Sampai tahun 2026 ini, lebih dari 80 persen beras kita masih bergantung dari Sulawesi dan Jawa Timur. Padahal kita menghadapi tantangan climate change dan ancaman Godzilla El Nino yang bisa memicu gagal panen di daerah pemasok,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius para intelektual, khususnya di lingkungan KAHMI, untuk merumuskan solusi konkret dalam mewujudkan kemandirian pangan daerah.
“Kita tidak bisa makan batu bara. Untuk daerah yang sangat krusial seperti Kaltim, mengapa kita belum berpikir serius membuat proyek ketahanan pangan? Ini adalah tantangan yang harus dijawab dengan gagasan-gagasan segar,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Andi Harun mendorong KAHMI dan Forhati untuk mengambil peran melalui tiga pendekatan utama, yakni dialog kebijakan dengan pemerintah, membangun koalisi program, serta tetap menjaga sikap kritis yang konstruktif.
Ia berharap, hasil diskusi dalam forum Musda tidak berhenti sebagai dokumen semata, melainkan dapat diimplementasikan dalam bentuk gerakan nyata yang memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah.
“Yang saya harapkan adalah alumni yang terus bergerak. Sejarah adalah peristiwa masa lalu, kini, dan masa depan yang selalu terhubung. Kita harus terus memproduksi gagasan agar daerah memiliki daya tahan yang kuat,” pungkasnya.

