SAMARINDA: Aksi 214 Samarinda di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) tanpa pertemuan antara massa dan Gubernur Rudy Mas’ud.
Hingga pukul 17.50 Wita, gubernur belum turun menemui ribuan peserta aksi yang telah memadati kawasan sejak siang.
Massa menyuarakan sejumlah tuntutan utama, yakni mendesak evaluasi seluruh kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur serta menghentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di daerah tersebut.
Dalam orasi yang silih berganti, sejumlah perwakilan massa menyampaikan kekecewaan atas tidak hadirnya gubernur di tengah aksi.
Mereka menilai kondisi tersebut bertolak belakang dengan pernyataan sebelumnya yang menyebut kantor gubernur terbuka bagi masyarakat.
“Sudah hampir setengah enam, tapi gubernur belum juga menjumpai rakyat. Padahal baru kemarin disampaikan kantor gubernur terbuka 24 jam,” ujar salah satu orator aksi diatas mobil komando.
Orasi lainnya juga menyinggung kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat.
“Sesungguhnya yang menyakiti kita bukan kawat berduri, tapi kebijakan yang tak tahu diri,” seru orator lainnya dari atas mobil komando.
Selain itu, massa juga menyuarakan kritik terhadap dugaan praktik pencitraan pemerintah.
“Tak butuh buzzer apabila pemimpin tak layak dipuji, biarkan alam yang menilai,” teriak massa yang disambut riuh peserta aksi.
Menjelang akhir aksi, tepatnya pukul 17.48 Wita, koordinator lapangan dari atas mobil komando menginstruksikan massa untuk mundur secara perlahan. Instruksi tersebut diiringi dengan lagu “Tanah Airku”.
Mobil komando mulai bergerak menjauh dari titik aksi, meskipun massa masih bertahan di lokasi untuk beberapa waktu.
Secara umum, aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak siang hingga petang ini terpantau berjalan kondusif di bawah pengawalan aparat keamanan, meski tuntutan massa belum langsung direspons oleh Gubernur Kalimantan Timur.

