SAMARINDA: Masjid Muhammad Cheng Hoo di Samarinda bukan sekadar rumah ibadah. Ia menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Islam, sekaligus representasi semangat keterbukaan di Kalimantan Timur.
Berdiri megah di Gn. Kelua, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, masjid ini tampil berbeda dari kebanyakan masjid pada umumnya.
Kubah dan menaranya menyerupai pagoda, dihiasi warna merah, hijau, dan kuning warna yang dalam tradisi Tionghoa melambangkan kebahagiaan, harapan, dan kemakmuran. Pintu gerbangnya berhiaskan ukiran khas Tiongkok, sementara kaligrafi Arab menghiasi berbagai sudut bangunan.
Akulturasi budaya tersebut bukan sekadar estetika. Ia menandakan bahwa Islam berkembang dalam beragam latar budaya tanpa kehilangan esensinya.
Penggagas masjid ini, Haji Yos Soetomo, dikenal sebagai pengusaha berdarah Tionghoa yang meyakini Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, pembawa kasih bagi seluruh alam. Keyakinan itulah yang mendorongnya membangun Masjid Muhammad Cheng Hoo di Benua Etam julukan Provinsi Kalimantan Timur.
Koordinator Masjid Muhammad Cheng Hoo Samarinda, Amri, menjelaskan pembangunan masjid tidak lepas dari latar belakang etnis dan nilai sejarah yang menginspirasi pendirinya.
“Dari segi Cheng Hoo itu, yang punya masjid ini juga Pak Haji Yos Soetomo. Beliau itu masih keturunan orang Chinese. Mungkin juga inspirasi dari leluhurnya,” ujar Amri saat ditemui, Minggu, 1 Maret 2026.
Masjid ini berdiri di atas lahan Yayasan Sumber Mas milik Yos Soetomo. Terdapat SMP dan SMA Fastabiqul Khairat yang juga dikelola yayasan tersebut, memperlihatkan keterkaitan antara visi keagamaan dan pendidikan.
Empat Masjid Cheng Hoo di Kalimantan Timur
Masjid Cheng Hoo tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia. Masjid Cheng Hoo di Surabaya menjadi yang pertama berdiri di Tanah Air, dibangun oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).
Di Kalimantan Timur sendiri terdapat empat masjid bernama Cheng Hoo dan seluruhnya digagas oleh Yos Soetomo.
“Untuk di Kalimantan Timur ada empat. Yang di Air Hitam Wahab Syahranie, kemudian di Ruhui Rahayu, ada yang di Kilometer 32 arah Balikpapan, dan satu lagi di Lamaru,” terang Amri.
Pembangunan masjid-masjid tersebut dimulai sekitar awal tahun 2000-an.
“Kurang lebih tahun dua ribuan,” katanya.
Secara fungsi, menurut Amri, tidak ada perbedaan mendasar dengan masjid pada umumnya. Perbedaannya terletak pada identitas visual yang kental dengan nuansa Tionghoa.
“Kalau membedakannya itu enggak ada sih. Cuma warnanya saja. Kalau masjid-masjid yang lain kan banyak yang putih. Ini kita khas Chinese, merah,” jelasnya.
Terinspirasi Laksamana Cheng Hoo
Nama Cheng Hoo merujuk pada Laksamana Zheng He, penjelajah Muslim dari Dinasti Ming yang melakukan pelayaran diplomatik antara 1405 hingga 1433.
Ia menjalin hubungan dagang dan budaya dengan berbagai kerajaan di Asia, termasuk Nusantara.
Dalam setiap pelayarannya, Cheng Hoo membawa pesan damai dan kerja sama. Rombongannya bahkan terdiri dari berbagai latar belakang keahlian.
“Yang ikut dalam rombongan kapal itu tidak semua Islam. Jadi itu ada yang agama lain. Tapi awak kapalnya diisi ahli pertanian, ahli teknik, segala macam dibawa. Tujuannya membantu negara yang dikunjunginya,” jelas Amri.
Semangat keterbukaan dan diplomasi itulah yang menjadi refleksi penggunaan nama Cheng Hoo pada masjid ini sebagai simbol persaudaraan lintas budaya dan penghapusan sekat antara etnis Tionghoa dan komunitas Muslim lokal.
Masjid Muhammad Cheng Hoo di Jalan Ruhui Rahayu mulai beroperasi pada 2018. Seiring waktu, fungsinya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat aktivitas sosial dan pendidikan.
Di sektor pendidikan, pengurus mengelola Taman Pendidikan Alquran (TPA). Program ini tidak hanya mengajarkan anak-anak membaca Alquran, tetapi juga menanamkan nilai sosial dan pentingnya toleransi.
Tantangan Inklusivitas dan Realita Toleransi
Meski menjadi simbol keterbukaan, upaya menjadikan masjid sebagai pusat dialog lintas agama masih menjadi pekerjaan rumah.
Berdasarkan Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) 2024 yang dirilis Lembaga Kajian Kurikulum dan Kebijakan Universitas Indonesia, Kalimantan Timur meraih skor 78,19 dan berada di klaster 3.
Dimensi toleransi tercatat pada angka 77,84, yang menunjukkan masih adanya pengalaman diskriminasi berbasis agama serta pengaruh politisasi agama dalam relasi sosial.
Dilansir dari salah satu laman, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Khaliq, menilai keberadaan Masjid Cheng Ho memiliki potensi besar sebagai ruang inklusif.
“Masjid Muhammad Cheng Hoo memang tempat bagus dalam mewadahi itu. Karena memang Kalimantan Timur terkenal dengan kerukunan umat beragama,” ujarnya.
Menurutnya, diperlukan inisiatif dialog dan program yang lebih intensif untuk memperkuat harmoni sosial.
Ia mencontohkan konsep China Space di Masjid Istiqlal yang dapat diadopsi sebagai ruang edukasi lintas budaya dan pemahaman Islam dalam komunitas Tionghoa.
“Tantangan terbesar itu adalah mengikis prasangka-prasangka supaya kita lebih terbuka dengan agama lain. Bahwa berteman dengan yang berbeda tidak mesti harus menjadi sama,” jelasnya.
Aktivitas Ramadan
Sebagai masjid yang berada di jalur strategis penghubung Samarinda menuju Balikpapan, Bontang, dan kawasan industri, Masjid Muhammad Cheng Hoo juga dikenal sebagai masjid singgah.
“Kita ini masjid singgah. Orang mau ke Balikpapan, mau ke Bontang, lewat kan,” ujar Amri.
Memasuki bulan Ramadan, pengurus rutin menyiapkan takjil dan buka puasa bersama bagi masyarakat dan para musafir.
“Kalau Ramadan kita menyiapkan takjil dan buka bersama. Kurang lebih lima puluh porsi. Ada snack box, ada nasi kotaknya. Makan berat sama makan ringan,” katanya.
Salat tarawih pun dilaksanakan sebagaimana masjid pada umumnya dan diikuti jemaah yang cukup ramai.
“Ya pada umumnya jalan semua. Alhamdulillah ramai,” tutup Amri.

