Close Menu
  • Nasional
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Kesehatan
Copyright PT Media Narasi Indonesia
anggota Jaringan Media Siber Indonesia

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pansus LKPj Soroti Kinerja BUMD, PAD Samarinda 2025 Memang Surplus tapi Belum Optimal

Pasca Aksi 21 April, Forum Pimred Ajukan 3 Tuntutan Buntut Insiden Larangan Peliputan di Kantor Gubernur Kaltim

DPRD Kaltim Siapkan Proses Hak Angket usai 7 Fraksi Bersepakat dengan Massa 21 April

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Contact
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
Narasi.coNarasi.co
  • Nasional
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Kesehatan
Subscribe
Narasi.coNarasi.co
You are at:Home » Masjid Muhammad Cheng Hoo: Jejak Sejarah, Akulturasi Budaya dan Tantangan Inklusivitas di Samarinda
Samarinda

Masjid Muhammad Cheng Hoo: Jejak Sejarah, Akulturasi Budaya dan Tantangan Inklusivitas di Samarinda
Telah dibaca : 719 Kali.

Adi Rizki RamadhanBy Adi Rizki Ramadhan1 Maret 2026Updated:1 Maret 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Telegram Email WhatsApp Threads Copy Link
Teks: Masjid Muhammad Cheng Hoo, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, (Dok: Narasi.co/Adi)
Share
Facebook Twitter WhatsApp Email Telegram Copy Link

SAMARINDA: Masjid Muhammad Cheng Hoo di Samarinda bukan sekadar rumah ibadah. Ia menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Islam, sekaligus representasi semangat keterbukaan di Kalimantan Timur.

Berdiri megah di Gn. Kelua, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, masjid ini tampil berbeda dari kebanyakan masjid pada umumnya.

Kubah dan menaranya menyerupai pagoda, dihiasi warna merah, hijau, dan kuning warna yang dalam tradisi Tionghoa melambangkan kebahagiaan, harapan, dan kemakmuran. Pintu gerbangnya berhiaskan ukiran khas Tiongkok, sementara kaligrafi Arab menghiasi berbagai sudut bangunan.

Akulturasi budaya tersebut bukan sekadar estetika. Ia menandakan bahwa Islam berkembang dalam beragam latar budaya tanpa kehilangan esensinya.

Penggagas masjid ini, Haji Yos Soetomo, dikenal sebagai pengusaha berdarah Tionghoa yang meyakini Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, pembawa kasih bagi seluruh alam. Keyakinan itulah yang mendorongnya membangun Masjid Muhammad Cheng Hoo di Benua Etam julukan Provinsi Kalimantan Timur.

Koordinator Masjid Muhammad Cheng Hoo Samarinda, Amri, menjelaskan pembangunan masjid tidak lepas dari latar belakang etnis dan nilai sejarah yang menginspirasi pendirinya.

“Dari segi Cheng Hoo itu, yang punya masjid ini juga Pak Haji Yos Soetomo. Beliau itu masih keturunan orang Chinese. Mungkin juga inspirasi dari leluhurnya,” ujar Amri saat ditemui, Minggu, 1 Maret 2026.

Masjid ini berdiri di atas lahan Yayasan Sumber Mas milik Yos Soetomo. Terdapat SMP dan SMA Fastabiqul Khairat yang juga dikelola yayasan tersebut, memperlihatkan keterkaitan antara visi keagamaan dan pendidikan.

Empat Masjid Cheng Hoo di Kalimantan Timur

Masjid Cheng Hoo tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia. Masjid Cheng Hoo di Surabaya menjadi yang pertama berdiri di Tanah Air, dibangun oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).

Di Kalimantan Timur sendiri terdapat empat masjid bernama Cheng Hoo dan seluruhnya digagas oleh Yos Soetomo.

“Untuk di Kalimantan Timur ada empat. Yang di Air Hitam Wahab Syahranie, kemudian di Ruhui Rahayu, ada yang di Kilometer 32 arah Balikpapan, dan satu lagi di Lamaru,” terang Amri.

Pembangunan masjid-masjid tersebut dimulai sekitar awal tahun 2000-an.

“Kurang lebih tahun dua ribuan,” katanya.

Secara fungsi, menurut Amri, tidak ada perbedaan mendasar dengan masjid pada umumnya. Perbedaannya terletak pada identitas visual yang kental dengan nuansa Tionghoa.

“Kalau membedakannya itu enggak ada sih. Cuma warnanya saja. Kalau masjid-masjid yang lain kan banyak yang putih. Ini kita khas Chinese, merah,” jelasnya.

Terinspirasi Laksamana Cheng Hoo

Nama Cheng Hoo merujuk pada Laksamana Zheng He, penjelajah Muslim dari Dinasti Ming yang melakukan pelayaran diplomatik antara 1405 hingga 1433.

Ia menjalin hubungan dagang dan budaya dengan berbagai kerajaan di Asia, termasuk Nusantara.

Dalam setiap pelayarannya, Cheng Hoo membawa pesan damai dan kerja sama. Rombongannya bahkan terdiri dari berbagai latar belakang keahlian.

“Yang ikut dalam rombongan kapal itu tidak semua Islam. Jadi itu ada yang agama lain. Tapi awak kapalnya diisi ahli pertanian, ahli teknik, segala macam dibawa. Tujuannya membantu negara yang dikunjunginya,” jelas Amri.

Semangat keterbukaan dan diplomasi itulah yang menjadi refleksi penggunaan nama Cheng Hoo pada masjid ini sebagai simbol persaudaraan lintas budaya dan penghapusan sekat antara etnis Tionghoa dan komunitas Muslim lokal.

Masjid Muhammad Cheng Hoo di Jalan Ruhui Rahayu mulai beroperasi pada 2018. Seiring waktu, fungsinya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat aktivitas sosial dan pendidikan.

Di sektor pendidikan, pengurus mengelola Taman Pendidikan Alquran (TPA). Program ini tidak hanya mengajarkan anak-anak membaca Alquran, tetapi juga menanamkan nilai sosial dan pentingnya toleransi.

Tantangan Inklusivitas dan Realita Toleransi

Meski menjadi simbol keterbukaan, upaya menjadikan masjid sebagai pusat dialog lintas agama masih menjadi pekerjaan rumah.

Berdasarkan Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) 2024 yang dirilis Lembaga Kajian Kurikulum dan Kebijakan Universitas Indonesia, Kalimantan Timur meraih skor 78,19 dan berada di klaster 3.

Dimensi toleransi tercatat pada angka 77,84, yang menunjukkan masih adanya pengalaman diskriminasi berbasis agama serta pengaruh politisasi agama dalam relasi sosial.

Dilansir dari salah satu laman, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Khaliq, menilai keberadaan Masjid Cheng Ho memiliki potensi besar sebagai ruang inklusif.

“Masjid Muhammad Cheng Hoo memang tempat bagus dalam mewadahi itu. Karena memang Kalimantan Timur terkenal dengan kerukunan umat beragama,” ujarnya.

Menurutnya, diperlukan inisiatif dialog dan program yang lebih intensif untuk memperkuat harmoni sosial.

Ia mencontohkan konsep China Space di Masjid Istiqlal yang dapat diadopsi sebagai ruang edukasi lintas budaya dan pemahaman Islam dalam komunitas Tionghoa.

“Tantangan terbesar itu adalah mengikis prasangka-prasangka supaya kita lebih terbuka dengan agama lain. Bahwa berteman dengan yang berbeda tidak mesti harus menjadi sama,” jelasnya.

Aktivitas Ramadan

Sebagai masjid yang berada di jalur strategis penghubung Samarinda menuju Balikpapan, Bontang, dan kawasan industri, Masjid Muhammad Cheng Hoo juga dikenal sebagai masjid singgah.

“Kita ini masjid singgah. Orang mau ke Balikpapan, mau ke Bontang, lewat kan,” ujar Amri.

Memasuki bulan Ramadan, pengurus rutin menyiapkan takjil dan buka puasa bersama bagi masyarakat dan para musafir.

“Kalau Ramadan kita menyiapkan takjil dan buka bersama. Kurang lebih lima puluh porsi. Ada snack box, ada nasi kotaknya. Makan berat sama makan ringan,” katanya.

Salat tarawih pun dilaksanakan sebagaimana masjid pada umumnya dan diikuti jemaah yang cukup ramai.

“Ya pada umumnya jalan semua. Alhamdulillah ramai,” tutup Amri.

Amri Kaltim Masjid Muhammad Cheng Hoo Ramadan
Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram Email Threads Copy Link
Previous ArticleSafari Ramadan Wali Kota Samarinda, Andi Harun Puji Arsitektur Masjid As-Salam
Telah dibaca : 700 Kali.
Next Article Tingkatkan Kapasitas SDM, MSI Group Wajibkan Wartawan UKW dan Siapkan Reward
Telah dibaca : 679 Kali.
Adi Rizki Ramadhan

Related Posts

1.897 Personel Gabungan Disiagakan Amankan Aksi 21 April di Samarinda
Telah dibaca : 650 Kali.

20 April 2026

Jelang Demo 21 April, Ini Pesan Wali Kota Samarinda Kepada Massa Aksi
Telah dibaca : 659 Kali.

20 April 2026

Hotel Courtyard by Marriott Dibangun di Samarinda, Pemkot Sebut Tanda Kepercayaan Investor Global
Telah dibaca : 670 Kali.

20 April 2026

Comments are closed.

@narasi.co
BERITA TERBARU

Pansus LKPj Soroti Kinerja BUMD, PAD Samarinda 2025 Memang Surplus tapi Belum Optimal
Telah dibaca : 625 Kali.

Pasca Aksi 21 April, Forum Pimred Ajukan 3 Tuntutan Buntut Insiden Larangan Peliputan di Kantor Gubernur Kaltim
Telah dibaca : 634 Kali.

DPRD Kaltim Siapkan Proses Hak Angket usai 7 Fraksi Bersepakat dengan Massa 21 April
Telah dibaca : 631 Kali.

Koalisi Pers Kaltim Kecam Intimidasi Wartawan Saat Liput Aksi 214 di Kantor Gubernur
Telah dibaca : 639 Kali.

Rudy Mas’ud Respons Aksi 214 Lewat Instagram, Tak Temui Massa Saat Demo Berlangsung
Telah dibaca : 653 Kali.

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Pinterest
Don't Miss
Pansus LKPj Soroti Kinerja BUMD, PAD Samarinda 2025 Memang Surplus tapi Belum Optimal
Telah dibaca : 625 Kali.
Pasca Aksi 21 April, Forum Pimred Ajukan 3 Tuntutan Buntut Insiden Larangan Peliputan di Kantor Gubernur Kaltim
Telah dibaca : 634 Kali.
DPRD Kaltim Siapkan Proses Hak Angket usai 7 Fraksi Bersepakat dengan Massa 21 April
Telah dibaca : 631 Kali.
Koalisi Pers Kaltim Kecam Intimidasi Wartawan Saat Liput Aksi 214 di Kantor Gubernur
Telah dibaca : 639 Kali.
Demo
Top Posts

Pengaruh Media Massa Terhadap Integrasi Nasional
Telah dibaca : 4.217 Kali.

8 Maret 20233,832 Views

Pemprov Kaltim Siap Masukkan Mahasiswa UT Samarinda dalam Skema Bantuan Pendidikan Gratispol
Telah dibaca : 5.710 Kali.

2 Juli 20253,462 Views

Peran Pendidikan dalam Mewujudkan Integrasi Nasional
Telah dibaca : 4.886 Kali.

8 Maret 20233,361 Views

Tertarik Berinvestasi di Kaltim, Pengusaha Tiongkok Butuh Lahan 1.000 Hektare
Telah dibaca : 988 Kali.

20 Juni 20243,316 Views
Don't Miss
Ekonomi 22 April 2026

Pansus LKPj Soroti Kinerja BUMD, PAD Samarinda 2025 Memang Surplus tapi Belum Optimal
Telah dibaca : 625 Kali.

SAMARINDA: Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Wali Kota Samarinda Tahun Anggaran 2025 mulai…

Pasca Aksi 21 April, Forum Pimred Ajukan 3 Tuntutan Buntut Insiden Larangan Peliputan di Kantor Gubernur Kaltim
Telah dibaca : 634 Kali.

DPRD Kaltim Siapkan Proses Hak Angket usai 7 Fraksi Bersepakat dengan Massa 21 April
Telah dibaca : 631 Kali.

Koalisi Pers Kaltim Kecam Intimidasi Wartawan Saat Liput Aksi 214 di Kantor Gubernur
Telah dibaca : 639 Kali.

Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

Demo
© 2026 Narasi.co | PT. Media Narasi Indonesia - Anggota Jaringan Media Siber Indonesia.
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kode Etik

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.