

SAMARINDA: Keterbatasan anggaran dinilai menjadi penghambat utama pengembangan sektor pariwisata di Kota Samarinda sepanjang 2026.
Kondisi tersebut membuat inovasi destinasi wisata berjalan lambat dan belum mampu memberikan kontribusi maksimal terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Anggota Komisi II DPRD Samarinda Rusdi Doviyanto mengatakan, pengembangan sektor pariwisata membutuhkan dukungan anggaran yang memadai.
Tanpa investasi yang cukup, pemerintah akan kesulitan menghadirkan destinasi baru maupun meningkatkan kualitas fasilitas wisata yang sudah ada.
“Kalau anggarannya terbatas, sulit melahirkan destinasi baru yang menarik,” ujarnya, Rabu, 29 Juli 2026.
Menurut Rusdi, Samarinda memang tidak memiliki potensi wisata alam sebesar sejumlah kabupaten dan kota lain di Kaltin. Karena itu, pemerintah perlu mencari terobosan agar sektor pariwisata tetap mampu berkembang dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Ia menilai kehadiran Teras Samarinda telah menjadi daya tarik baru bagi masyarakat maupun wisatawan. Namun, keberadaan satu destinasi saja belum cukup untuk membuat wisatawan bertahan lebih lama di ibu kota Kaltim tersebut.
“Jangan sampai wisatawan hanya ke Teras Samarinda lalu pulang harus ada pilihan destinasi lain agar mereka tinggal lebih lama,” katanya.
Sebagai alternatif, Rusdi mendorong Pemkot Samarinda mengembangkan wisata berbasis seni, budaya, dan tradisi lokal. Salah satu potensi yang dinilai layak dioptimalkan ialah Desa Budaya Pampang dengan menghadirkan atraksi budaya secara rutin, tidak hanya pada momen atau perayaan tertentu.
Menurutnya, penyelenggaraan pertunjukan budaya secara berkala akan meningkatkan daya tarik wisata sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan di Samarinda.
Selain itu, ia menilai pemerintah perlu segera menyusun arah pengelolaan yang jelas terhadap kawasan wisata budaya tersebut, termasuk kepastian regulasi mengenai pola pengelolaan, apakah tetap sepenuhnya dikelola masyarakat adat atau dibuka melalui skema kemitraan investasi.

